Bg

Ringkasan Kuliah Umum Sri Mulyani Indrawati (SMI)

Diterbitkan tanggal 30 Mei 2018

Oleh: Fitri Wulandari
(Dosen dan Peneliti Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Surakarta) 

#BanggaIAINSurakarta

Ringkasan Kuliah Umum Sri Mulyani Indrawati (SMI) dari persepsi saya sebagai seorang yang pernah belajar ekonomi. Mendengar kabar beliau akan mampir ke kampus IAIN Surakarta, saya termasuk orang yang dengan senang hati menunggu kedatangan beliau. Walaupun di hari libur (sabtu 26 Mei 2018) ternyata antusias dosen, karyawan dan mahasiswa yang hadir menyambut kedatangan beliau sungguh luar biasa, jika tidak dibatasi saya bisa membayangkan Gedung Graha IAIN Surakarta pasti akan membludak karena tidak mampu untuk menampung kalangan akademisi terutama mahasiswa yang begitu antusias untuk bertemu SMI, minimal bisa berjabat tangan dan selfi dengan beliau.

Acara di mulai dengan sambutan Bapak Rektor Dr. H. Mudofir, M.Pd. Dalam sambutannya Bapak Rektor menjelaskan tentang peran kampus IAIN Surakarta yang hadir sebagai representasi hadirnya Negara memberikan pelayanan dalam bidang pendidikan. Kehadiran kampus IAIN Surakarta dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang bisa dikatakan murah, merupakan bentuk keberpihakan Negara terhadap pendidikan yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat, karena mendapat subsidi dari Negara. Walaupun dengan biaya kuliah yang terjangkau, kualitas dosen dan layanan menunjukkan peningkatan yang signifikan. Kualitas dosen ditunjukkan dari 50 persen dosen yang sudah Doktor atau sedang menempuh pendidikan Doktor. Kualitas layanan ditunjukkan dengan terus diberikannnya dana SBSN selama dua tahun berturut-turut yaitu tahun 2017 dan dilanjutkan SBSN di tahun 2018.

Acara selanjutnya dipandu oleh moderator Rahmawan Arifin, MSi, diskusi dengan SMI terasa cair, karena beberapa kali saya melihat beliau tersenyum yang jarang saya lihat di televisi SMI cenderung serius, mungkin sebagai menteri keuangan beban tugas beliau sangatlah tidak ringan ditengah kondisi dollar yang terus terkerek naik, isu-isu tentang utang luar negeri, serta asumsi pertumbuhan ekonomi yang menurut banyak pihak lebih rendah dari yang pernah dijanjikan pak Jokowi. Bagi saya yang dari S1 belajar dasar-dasar ekonomi seperti pengantar makro, ekonomi pembangunan, serta moneter dan fiscal, penjelasan SMI kemaren terkait dengan fundamental ekonomi adalah penjelasan terlugas yang pernah saya dengar secara langsung dari pakar yang benar-benar pakar (yang berbicara berdasar data riil dan terbaru). Kesan saya saat SMI berbicara adalah penguasaan terhadap data-data makro mengalir di luar kepala, menggambarkan pengalamannya yang panjang dan mumpuni.

Mengawali kuliah umum SMI mengutip tentang pentingnya APBN 2018 dalam rangka pemantapan pengelolaan fiskal untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan. Pertama, dengan melakukan optimalisasi pendapatan negara dengan target penerimaan perpajakan yang realistis berdasarkan basis data terkini. SMI juga mengomentari bahwa tidak benar bahwa anak bayi pun dikenai pajak, lebih lanjut disanggah oleh SMI karena pajak itu ada aturannya, jika pendapatan kurang dari 50 juta maka penduduk tersebut tidak kena pajak. Seperti misalnya mahasiswa tidak akan mungkin dikenai pajak karena belum berpenghasilan, malah yang terjadi mahasiswa menghabiskan subsidi melalui beasiswa dan subsidi pendidikan. Penjabaran lebih lanjut dari SMI bahwa Pajak akan menjadi alat pemerintah untuk melakukan distribusi pendapatan sekaligus stimulus untuk memacu dunia usaha agar lebih kompetitif.

Kedua adalah melanjutkan penguatan kualitas belanja negara dan tetap konsisten melakukan efisiensi belanja non-prioritas tanpa mengurangi pencapaian sasaran output. Belanja Negara akan diarahkan untuk mencapai tujuan dalam pembangunan nasional diantaranya digunakan untuk infrastruktur, mengurangi pengangguran, mengurangi kemiskinan dan juga untuk pemerataan hasil pembangunan serta berbagai perbaikan konektivitas dengan cara pengeluaran yang efisien. Pada tahun 2018 Belanja Negara sebesar  Rp2.220,7 T digunakan untuk transfer daerah dan dana desa sebesar 766,2 T dan juga untuk belanja kementerian dan lembaga (K/L) sebesar 847,4T, sisanya untuk belanja non kementerian sebesar 607,1 T. Pemerintah juga telah meningkatkan kesejahteraan aparatur Negara dengan pembayaran gaji ke 13 dan THR kepada para PNS, melalui evaluasi kebijakan dan juga penghematan belanja pada barang non-operasional dan penajaman belanja barang. Sedangkan untuk belanja modal diarahkan pada belanja yang produktif namun efisiensi tetap menjadi perhatian digunakan untuk bantuan sosial dan program perlindungan sosial.

SMI melanjutkan bahwa jika selama ini yang terus menjadi sorotan adalah infrastruktur sebenarnya tidak benar, karena faktanya anggaran pendidikan memiliki porsi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan anggaran infrastruktur. Anggaran pendidikan meningkat cukup tajam dari tahun sebelumnya sebesar 419 T menjadi 444,1 T pada tahun 2018. Anggaran pendidikan ini difokuskan untuk meningkatkan akses, distribusi dan kualitas pendidikan, akses pendidikan bagi siswa miskin, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan juga memperkuat pendidikan kejuruan melalui sinkronisasi kurikulum. Anggaran ini masih akan lebih tinggi jika ditambahkan dengan anggaran kementerian lain yang berfokus pada human capital. Artinya menurut SMI bahwa pemerintahan pak Jokowi konsisten untuk terus memperhatikan manusia sebagai aspek penting dalam pembangunan yang beradilan dan meningkatkan kesejahteraan.

Dalam pidatonya lebih lanjut SMI juga menjelaskan bahwa pemerintah terus konsisten untuk memperkuat berbagai program perlindungan sosial penanggulangan kemiskinan sebesar 283,8T sebagai dukungan pada masyarakat berpendapatan rendah sinergi antar program perlindungan sosial bantuan sosial yang tepat sasaran, tepat jumlah, dan tepat waktu. Selanjutnya SMI menjelaskan bahwa pemerintah tetap konsisten tentang subsidi, namun difokuskan pada subsidi yang lebih tepat sasaran, terutama untuk membantu masyarakat yang kurang mampu, mendukung pengendalian inflasi, mempertahankan daya beli masyarakat, serta  meningkatkan produksi pangan. Selanjutnya SMI melontarkan dengan kelakarnya tentang mental gratisan masyarakat. Jika masyarakat membeli bensin premium maka sebenarnya dia menerima subsidi dari Negara, jika menggunakan gas 3 kg, maka sebenarnya juga masih menerima subsidi, serta jika menggunakan listri 450W maka masyarakat tersebut juga menerima subsidi listrik dari Negara. Selain subsidi energy, sebenarnya Negara juga hadir dengan subsidi non energi seperti subsidi pupuk, subsidi pajak, subsidi bunga kredit program, namun tahun 2018 besaran subsidi menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya menjadi 61,7T.

Sebagai menteri yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai menteri terbaik di dunia (Best Minister in the World Award) di World Government Summit di Dubai, Uni Arab Emirates tahun 2018. Dan juga mendapatkan penghargaan kembali sebagai Menteri Keuangan Terbaik di Asia Pasifik Tahun 2018 versi majalah keuangan, FinanceAsia. SMI dianggap berhasil membawa perkonomian Indonesia ke arah yang lebih baik, karena pada tahun 2017 dianggap berhasil memanfaatkan kesempatan kemajuan ekonomi global untuk mereformasi struktur keuangan, sehingga dapat bertahan saat terjadi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat. FinanceAsia juga menilai SMI berhasil menjaga stabilitas belanja negara yang terlihat terlihat dari defisit anggaran yang lebih rendah (2,5%) dibanding proyeksi semula (2,9%).  Tentu dengan penghargaan yang sungguh keren dan luar biasa, pantaslah SMI merupakan sosok yang sangat percaya diri dan sebagai perempuan yang sungguh menginspirasi. Dalam berbagai kesempatan tidak lupa SMI selalu melontarkan guyonan bahwa kita itu harus positif thanking karena aura positif akan menyehatkan dibandingkan dengan jika pikiran kita selalu banyak su’udzon. Dengan gesture tubuh yang sangat percaya diri, tentu bagi saya SMI merupakan sosok perempuan yang istimewa.

Dalam kesempatan ini SMI juga menyinggung tentang Pembangunan manusia di Indonesia terus mengalami kemajuan. Pada tahun 2017, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dimana Indonesia mencapai angka 70,81. Angka ini meningkat sebesar 0,63 poin atau dikatakan tumbuh 0,9% dibandingkan tahun 2016. Hal ini menunjukkan bahwa Bayi yang lahir pada tahun 2017 memiliki harapan untuk dapat hidup hingga 71,06 tahun. Harapan anak-anak yang sekarang berusia 7 tahun dapat menikmati pendidikan selama 12,85 tahun atau setingkat dengan (Diploma I). Sementara itu, penduduk yang sekarang berusia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 8,10 tahun (kelas IX). Pada tahun 2017 rata-rata pengeluaran per kapita masyarakat sebesar 10,66 juta rupiah per tahun. Namun secara umum IPM kita masih berada pada peringkat yang sangat tinggi dibandingkan dengan negara didunia. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita kerjakan dan kita kejar diantaranya adalah penurunan tingkat kemiskinan, gizi buruk, tingkat kesehatan dan resiko kematian terutama untuk ibu hamil (angka kematian ibu sebanyak 305 kematian per 100 ribu kelahiran hidup), kesehatan terutama anak-anak dengan imunisasi yang belum lengkap, serta akses pada layanan dasar dimana ketertinggalan dapat dikatakan multi dinamis seperti mendapatkan pendidikan yang layak terutama untuk anak-anak didaerah terpencil dan pedalaman, dan terutama lagi untuk perempuan.

Bagi saya dan mungkin mahasiswa saya, pengalaman kuliah umum dengan SMI merupakan pengalaman kuliah umum terbaik di IAIN Surakarta. Selama 1 jam 45 menit SMI menjelaskan berbagai hal tentang kondisi makro, APBN, pertumbuhan ekonomi, utang pemerintah, dan subsidi tidak ada kegaduhan dan semua yang hadir dengan seksama mendengarkan penjelasan beliau yang begitu mudah dicerna, walaupun sebagian besar dari hadirin belum pernah belajar makro ekonomi, moneter atau ekonomi pembangunan. Berbagai pertanyaan yang dilontarkan pada sesi tanya jawab, dijawab SMI dengan gamblang yang semakin menggambarkan kapasitas SMI sebagai menteri yang sungguh kompeten. Saluut dan bangga untuk ibu Sri Mulyani Indrawati, Ph.D, semoga ibu diberikan umur yang panjang dan berkah, teruslah berkarya untuk Indonesia. Karena kami sama-sama menunggu Indonesia kedepan adalah Indonesia yang terus maju, mencapai masyarakat berkeadilan dan tentu sejahtera. Amin.

 

 

Penulis

Fitri Wulandari
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Surakarta

Dosen dan Peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Surakarta

Komentar ditutup.