Bg

Arahan Menteri Agama dalam Entry Meeting Evaluasi Reformasi Birokrasi, 9 Agustus 2018

Diterbitkan tanggal 10 Agustus 2018

Oleh: Dr. H. Mudofir, S.Ag., M.Pd
(Rektor IAIN Surakarta)

 

Entry meeting dengan tema “Komitmen Reformasi Birokrasi sebagai Wujud Integritas” menyajikan kebaruan. Menteri Agama dalam arahannya menempatkan kata komitmen sebagai setara dengan nilai integritas. Pengejawantahan komitmen dalam reformasi birokrasi oleh ASN menjadi cermin dari perwujudan integritas pribadi.

Karena itu, Menurut Menteri LHS, sekurang-kurangnya ada dua dimensi relasi dalam pelaksanaan reformasi birokrasi. Pertama, relasi atasan-bawahan (patron-client). Penjelasannya, dimensi ini dilakukan sebagaimana kelaziman birokrasi di mana atasan memberi perintah dan bawahan mematuhinya. Relasi atasan-bawahan bersifat birokratis kaku. Kedua, relasi belas kasih/cinta kasih. Dimensi ini menekankan sifat relasi yang melampaui “makna teks/ketentuan”. Hubungannya bersifat akrab, berani, intim, dan menghunjam di kedalaman hati. Dimensi kedua ini sanggup menghasilkan keikhlasan, dedikasi tinggi, dan menjadi ruh gerakan reformasi birokrasi.

Selanjutnya, Menteri Agama memasukkan unsur Tuhan dan Negara dalam reformasi birokrasi. Beliau ingin menegaskan bahwa melaksanakan reformasi birokrasi itu bukan semata-mata tindakan sebuah kerutinan yang kering, tapi tindakan penuh makna sebagai artikulasi dari perintah agama dan tugas negara. Hal ini demikian karena reformasi birokrasi adalah backbone dari keefektifan negara menjalankan roda organisasi demi tercapainya tujuan-tujuan pembangunan.

Dalam garis kontinum di atas, Menteri Agama hendak melakukan desekularisasi birokrasi. Artinya, reformasi birokrasi bukanlah semata-mata berimplikasi duniwiah saja, tapi juga berimplikasi ukhrawiah. Ada aspek kemanfaatan duniawi dan ukhrawi sekaligus. Ini menarik karena dengan melibatkan dimensi nilai-nilai ketuhanan dan Negara, reformasi birokrasi semestinya memperoleh kekuatan ganda dalam implementasinya. Ada pahala dunia, pahala akhirat, dan juga bernilai ibadah.

Akhirnya, di ujung arahannya beliau meminta agar semua jajaran Kementerian Agama memberikan dedikasi terbaik kepada bangsa dan negara. “Mari kita wariskan legacy kepada Kementerian Agama sebagai perwujudan dedikasi kita kepada bangsa dan negara”, pungkas Menteri Agama” (Jakarta, 10 Agustus 2018, Mudhofir Abdullah).

Komentar ditutup.