Bg

Apa Pesan Kemenag pada Mahasiswa Baru IAIN Surakarta?

Diterbitkan tanggal 15 Agustus 2018

SINAR- Rabu (15/8). Menjadi mahasiswa saat ini dituntut dua hal yaitu memiliki kemampuan intelektual yang bagus juga mampu menggerakkan masyarakat. Pernyataan ini disampaikan  Muhammad Aziz Hakim, SHI, MH. kepada mahasiswa baru dalam acara Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) IAIN Surakarta. Aziz Hakim adalah Kepala Seksi Pengabdian Kepada Masyarakat pada Subdit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat pada Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Kementerian Agama. “Mahasiswa sekarang harus menjadi intelektual organik, yaitu menjadi intelektual yang sekaligus bisa menggerakkan masyarakat,” tuturnya. Hakim melanjutkan, untuk bisa menjadi intelektual organik maka mahasiswa harus peka terhadap fenomena yang terjadi disekitarnya dan juga harus terjun, membaur ke tengah-tengah masyarakat.

Hakim merinci, menurutnya ada tiga tipe mahasiswa yaitu mahasiswa yang hanya berorientasi akademik, mahasiswa aktivis dan yang imbang keduanya. Sebagaimana disampaikannya, “Ada tiga tipe mahasiswa, akademik oriented, aktivis oriented dan balance.” Mahasiswa yang hanya berorientasi pada akademik biasanya parameter suksesnya adalah nilai IPK yang tinggi. Menurut Hakim mahasiswa tipe ini hanya mengejar kesuksesan yang bersifat individual. Sementara mahasiswa tipe ke dua yang sibuk sebagai aktivis memiliki kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi. Menurut Hakim mahasiswa tipe ke dua untuk saat ini tidak lagi ideal. “Menjadi aktivis mahasiswa itu kepekaan dan kepedulian sosialnya tinggi tapi kadang sangking tingginya sampai tidak peka dengan nasib diri sendiri,” selorohnya.

Menurut Hakim mahasiswa yang ideal saat ini adalah yang seimbang antara kemampuan intelektual dan kepekaan sosial. “Mahasiswa sekarang beda dengan mahasiswa tahun 90an ke sana, mahasiswa ideal sekarang menjadi aktivis tapi tidak melupakan kuliah dan harapan orang tua,” ujarnya.

Lebih lanjut hakim berpesan kepada mahasiswa baru agar berhati-hati dengan paham radikal, intoleran, hate speech, dan berita-berita hoaks. Sebagai konsekuensi dari dibukanya kebebasan berpendapat dan berekspresi maka informasi, opini dan kritik mengalir sangat deras dan tanpa filter. Kondisi ini sangat berbeda dengan era Orde Baru dulu sebagaimana dikatakan Hakim, “Dulu jaman saya mahasiswa menyampaikan kritik sangat susah, bisa ditangkap polisi atau tentara. Sekarang di era kebebasan orang bebas mengkritik akibatnya terjadi wabah hate speech dan hoax.”

Menyebarnya paham radikal dan intoleran menurut Hakim juga tidak lepas dari konsekuensi kebebasan informasi. “Di era kebebasan informasi ini kita seperti diserang dari empat penjuru, dari kanan kita menghadapi paham radikal keagamaan, dari kiri kita menghadapi paham sosial komunis, dari depan kita menghadapi liberalisme dan kapitalisme, dari belakang kita menghadapi separatisme,” jelasnya. Menurut Hakim untuk menanggulangi itu semua sangat penting bagi mahasiswa untuk memperkaya diri dengan pengetahuan, termasuk pengetahuan agama dan wawasan kebangsaan. (JnR/Humas Publikasi)#banggaiainsurakarta

Komentar ditutup.