Bg

Hura-Hura Kemerdekaan

Diterbitkan tanggal 16 Agustus 2018

Irma Ayu Kartika Dewi

(Penulis dan Dosen Prodi Sejarah Peradaban Islam FITK IAIN Surakarta)

#banggaIAINSurakarta

 

Sorak-sorak terdengar dalam beberapa minggu ini. Teriakan semangat dan tawa bahagia memenuhi di setiap kota dan desa. Agustus, bulan yang selalu disambut antusias di seluruh pelosok Indonesia. Jauh-jauh hari orang sudah merancang berbagai kegiatan. Mereka mengungkapkan rasa bahagia dan rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diraih masyarakat Indonesia. Kegiatan kemerdekaan yang dilakukan tidak sekedar untuk senang-senang semata, tetapi dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan rakyat, karena dengan berbagai kegiatan seperti lomba, gotong royong bersih desa, dan berbagai pertunjukan dapat membuat rakyat berkumpul, berpartisipasi dan saling bekerja sama.

Pahit, asam, manis yang menjadi makanan sehari-hari, sejenak ditepikan dengan aneka kegiatan. Kali ini, rakyat Indonesia harus dapat merenungkan apa yang telah diraih oleh para pahlawan. Kemerdekaan yang didapatkan tidak hanya terlepas dari penjajahan, tetapi juga terlepas dari segala aturan, belenggu dan ketergantungan terhadap pihak lain.

Indonesia bangsa yang pluralisme, dimana terdapat bermacam-macam suku, adat-istiadat, bahasa, dan agama. Pluralisme bisa menjadi salah satu faktor terjadinya konflik, tetapi pluralisme Indonesia justru bisa menjadi suatu alasan terjadinya persatuan dan kesatuan bangsa. Persatuan dan kesatuan adalah nilai yang sangat penting, rakyat harus bisa menjaganya dari berbagai ancaman yang bertujuan memecah belah bangsa Indonesia. Nilai menghargai terhadap perbedaan juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, agar rakyat tetap utuh bersatu.

Makna di Balik Kegembiraan

Dalam memperingati hari kemerdekaan, seluruh rakyat melakukan berbagai kegiatan, baik upacara bendera, perlombaan, pawai keliling, pentas seni, dan lainnya. Jenis lomba yang diadakan setiap daerah berbeda-beda, disesuaikan dengan situasi, kondisi dan budaya di daerahnya masing-masing. Perlombaannya biasanya dibedakan, untuk anak-anak, orang dewasa, dan untuk usia lanjut. Jenis perlombaannya bermacam-macam, hadiahnya pun bermacam-macam.

Tidak disadari berbagai jenis lomba merupakan tradisi rakyat dan kearifan lokal yang tidak dimiliki oleh negara lain, sehingga harus terus dipertahankan agar tidak musnah. Jenis lomba yang diadakan pun hampir selalu sama dengan daerah lain dari dulu hingga sekarang, meskipun ada beberapa daerah yang menambah jenis perlombaan. Dari beberapa jenis lomba mempunyai sejarah dan filosofi sendiri-sendiri.

Beberapa perlombaan ditiru atau diambil dari masa penjajahan. Maknanya pun tidak sembarangan. Balap karung misalnya, menjadi jembatan memori masa penjajahan Jepang. Kala itu orang Indonesia sangat miskin, sehingga harus berkain goni. Begitu juga lomba makan kerupuk sebagai pengingat kesulitan pangan yang luar biasa pada masa penjajahan. Tidak ketinggalan, tarik tambang menjadi cerminan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan, dengan penuh kerja sama, rawe-rawe rantas, malang-malang putung.

Adapun balap egrang, yang mencerminkan orang Belanda dulu tinggi-tinggi, sedangkan rakyat Indonesia pendek dan kecil, sehingga harus menggunakan alat bantu untuk menyamakan ketinggian. Sementara itu panjat pinang menjadi perlombaan yang paling ditunggu-tunggu. Di zaman penjajahan Belanda, panjat pinang merupakan hiburan saat perayaan-perayaan oleh orang-orang Belanda, dengan menjadikan pribumi sebagai tontonan. Setelah kemerdekaan, panjat pinang justru menjadi ikon perlombaan. Sampai-sampai ada anggapan perlombaan tanpa panjat pinang itu tidak afdol.

Sekalipun sarat makna, tidak sedikit juga orang yang mencibir dan menganggap aneka lomba Agustus itu sebagai ajang hura-hura. Dikatakan demikian karena ada beberapa perlombaan yang tidak bermakna, misalnya balapan motor, bermain kartu, dan lainnya. Mereka hanya berburu keramaian dan kegembiraan semata, tanpa memperhatikan maknanya. Kegiatan tersebut dapat membelokkan makna perlombaan yang sebenarnya dan dapat merusak penerus bangsa. Di sinilah pentingnya peran panitia untuk memilah-milah lomba apa saja yang pantas diadakan. Di lain sisi, mereka juga harus bertanggungjawab untuk menyajikan berbagai lomba yang sesuai dengan budaya bangsa dan meningkatkan rasa cinta tanah air. Selain itu, perlombaan juga harus dapat membangkitkan kembali rasa toleransi dan gotong roong, sehingga akan terwujud kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Akhirnya, mari kita isi kemerdekaan dengan hal-hal yang positip, bermanfaat serta menumbuhkan rasa nasionalisme demi mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia. Dirgahayu Indonesia, Merdeka!

Penulis

Irma Ayu Kartika Dewi
Penulis dan Dosen Prodi Sejarah Peradaban Islam FITK IAIN Surakarta

(Penulis dan Dosen Prodi Sejarah Peradaban Islam FITK IAIN Surakarta)

Komentar ditutup.