Bg

Memotret (Ke)Humaniora(an) Sejarah

Diterbitkan tanggal 24 September 2018

Oleh: Latif Kusairi
(Dosen Sejarah Peradapan Islam IAIN Surakarta dan Peneliti pada Pusat Studi Demokrasi dan HAM (PUSDEHAM) Surabaya)

#banggaiainsurakarta

Dalam kehidupan kemanusian, sejarah dipandang sebagai sebuah ujung pedang. Dalam artian,  sejarah ditempatkan dan dipandang sebagai sebuah ilmu yang paling bertanggung jawab atas masa kini dan masa yang akan datang dengan menuliskan masa lalu. Doktrin sejarah yang telah digunakan oleh Orde Baru untuk melanggengkan kuasanya dipandang sebuah blunder dan penyanderaan sejarah. Sehingga anggapan bahwa sejarah yang sudah ditulis sebagai penjaga moralitas. Di sinilah kemudian sejarah banyak di salah artikan dalam arti sempit, yaitu tulisan sejarah dianggap mempunyai kebenaran mutlak tanpa celah.

Sejarah-pun akhirnya harus keluar dari garis demarkasinya yang cenderung bercerita perang dan perjuangan. Hal ini sepadan apa yang diungkapkan oleh Budiawan dalam bukunya Sejarah Sebagai Humaniora, bagaimana sebenarnya sejarah dipahami dalam arti luas, dan menjelaskan bahwa sejarah bukanlah ilmu yang hukumnya mempunyai ke-shohehan (kebenaran) yang pasti.

Salah satu hal perlu diingat bahwa sejarah bukanlah kerja “pertukangan” semata-mata, yang seakan netral dalam arti bebas nilai. Tidak ada sejarah yang bebas nilai. Hingga setiap narasi sejarah, sadar atau tidak sadar pasti berangkat dari perspektif tertentu yang dibentuk dari berbagai faktor. Salah satunya, dan ini barangkali yang utama, adalah nilai-nilai keutamaan yang hendak diperjuangkan oleh sejarawan, dan dalam hal inilah sejarah sebagai humaniora menemukan ruangnya.

Di sisi lain, kita kembali diingatkan bahwa kita tidak bisa menganggap bahwa sejarah bukanlah sebuah narasi yang bersifat tunggal (history), tetapi sejarah bisa dikaji dari banyak perspektif yang memunculkan pluralitas sejarah(histories). Sehingga doktrin Orde Baru yang dialamatkan pada komunisme bukan diulang-ulang sebagai musuh, tetapi bagaimana sejarah bisa menempatkan sejarah sebagai sebab. Hal ini sesuai apa yang dikatakan oleh sejarawan Prancis Pierre Nora, yaitu penulisan sejarah yang menaruh perhatian pada pada akibat daripada sebab suatu atau serangkaian kejadian itu. Hingga sejarah tidak menjadikannya sebagai penjaga kegelisahan akan musuh-musuhnya yang perlu dihilangkan, tetapi sejarah sebagai rememoriam atas kejadian yang pernah terjadi.

Melihat lebih dalam lagi, sejarah bukan hanya bercerita atas model yang telah disepakati secara umum, tetapi mereka lupa dalam ingatan perorangan itu terdapat cerita sendiri yang kadang liyan (lain) dari kespakatan umum, di sinilah kesepakatan umum itu tidak serta merta benar, karena patri memori orang itu berbeda dan harus diapresiasi dalam sejarah dan direaltivisir. Seperti yang dicontohkan dalam buku karya Baskara T. Wardaya yaitu Mencari Supriadi, yang dianggap hanya pengklaiman atas sejarah dengan fakta yang sangat lemah. Padahal bila tulisan itu ditempatkan sebagai memori pelaku sejarah, tulisan itu akan lebih bermakna dari pada pengakuan sebagai Supriadi. Sehingga yang tercabut dari akarnya adalah pemaknaan sejarah atas ingatan itu menjadi karya ketenaran saja.

  Politik memori masyarakat ini juga tidak serta merta hadir sebagai kesepakatan umum. Ketika disinkronkan dengan tulisan lainnya, yaitu Pem”pahlawan”an Tokoh Sejarah dan Politik Kepentingan dan Negara dan memory kolektif  yang terjadi adalah sebaliknya. Pahlawan tidak serta-merta benar, akan tetapi konflik kepentingan yang ada dan ingatan orang tidak selalu hadir beriringan. Yang terjadi citra pem”pahlawan”an hanya milik negara sedang masyarakat memiliki nilai pahlawannya sendiri dalam ingatan kolektifnya. Kini sejarah harus membuka diri bahwa sejarah tidak lagi mengkaji sejarah. Karena bangunan sejarah kini bukan lagi sebuah sejarah yang berseragam, juga tidak melucuti tentang kesalahan tahun sejarah ’65, tetapi sejarah harus mengkaji untuk sejarah sebagai penyampai nilai moral, memaafkan yang telah ada yang menjadi bangunan kini. Hal ini sesuai apa yang diungkapkan Claude Levis Strauss, history is,,never history,,but history for (sejarah tidak untuk sejarah sendiri, tetapi sejarah untuk), sehingga nilai-nilai moral bisa disampaikan, akan tetapi bukan sebagai penjaga moralitas.

            Akhirnya sejarah tunggal, sejarah milik pemenang dan sejarah yang sifatnya kaku bersifat elitis tidak dimainkan. Tetapi sejarah adalah penjaga memori yang dimiliki banyak orang dengan versinya masing-masing tanpa ada paksaan dan upaya ancaman.

Penulis

Latif Kusairi
Dosen Sejarah Peradapan Islam IAIN Surakarta dan Peneliti pada Pusat Studi Demokrasi dan HAM (PUSDEHAM) Surabaya

Komentar ditutup.