Bg

DUA TAHUN MA’HAD AL-JAMI’AH IAIN SURAKARTA

Diterbitkan tanggal 26 September 2018

Oleh: Dr. H. Syamsul Bakri, M.Ag
(Wakil Rektor III – Pengasuh Ma’had Al-Jami’ah IAIN Surakarta)

 

Pesantren berasal dari kata santri dgn awalan “pe” dan akhiran “an” yang berarti tempat bagi para santri, yakni tempat orang berkumpul utk belajar ilmu agama Islam dan mempraktekannya.  Karena berupa pemondokan, maka kemudian popular disebut pondok pesantren. Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang mempunyai kekhasan tersendiri dan berbeda dengan lembaga pendidikan yang lainnya. Dalam telaah sejarah, pesantren merupakan bentuk lembaga pribumi tertua di Indonesia. Pesantren sudah dikenal jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan sejak Islam masuk ke Indonesia. Pesantren kemudian terus berkembang sesuai dengan perkembangan dunia pendidikan pada umumnya.

Pada era modern, yakni setelah masuknya model-model sekolah Barat di Indonesia, pesantren sedikit demi sedikit dan secara bertahab mulai membuka diri untuk menerima model pendidikan Barat, yakni menggunakan metodologi pembelajaran Barat seperti menggunakan kurikulum, evaluasi, raport dan system kelas. Walaupun pesantren bersifat “tradisional” tetapi sub ordina-sub ordinat yayasan pesantren membuka diri untuk menerima modernisasi pendidikan. Hal ini dilakukan agar pesantren siap untuk berdinamika dengan zamannya, dengan tetap konsisten pada akar-akar tradisi dan kultur tradisionalitasnya.

Di asrama tempat santri belajar mengaji, tradisi dan kultur tradisional dipertahankan sebagai identitas komunitas, sekaligus mewakili cara pandang dunia (worldview) tertentu. Di pondok (asrama, ma’had) para santri belajar kitab-kitab klasik. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga warisan tradisi ulama klasik agar tetap terjaga, dan menjadi pedoman serta inspiorasi dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Kajian úlum al-din di pesantren biasanya bersifat doktriner, dengan pendekatan Imani-transendental.

Pada sisi lain, para alumni pondok pesantren mulai memasuki lembaga perguruan tinggi. Sebagaimana lazimnya perguruan tinggi, seluruh kajiannya bercorak historis-ilmiah, termasuk dalam studi agama.

IAIN Surakarta sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam tentu harus mampu menangkan fakta adanya dua model kajian tersebut, yakni kajian doktriner pesantren dan kajian historis perguruan tinggi. Masing-masing model memiliki kelebihan dan tempatnya sendiri-sendiri. Untuk itu maka perlu upaya memadukan kedua model tersebut, yakni dengan membentuk pondok pesantren bagi mahasiswa. Hal inilah yang melatarbelakngi dan mendorong dibentuknya Ma’had Al-Jami’ah di IAIN Surakarta pada akhir tahun 2015. Ide ini kemudian ditindaklanjuti dengan FGD kepesantrenan yang fokus memperbincangkan seputar pesantren bagi mahasiswa. FGD yang dilaksanakan di IAIN Surakarta 2 Pebruari 2016 tersebut melibatkan para guru besar, para rektor, para pengasuh pondok pesantren, Kementrian Agama, dan para tokoh masyarakat. FGD ini kemudioan menginspirasi fakultas-fakultas di IAIN Surakarta untuk mendirikan pesantren mahasiswa. Saat ini, selain Ma’had al-Jami’ah, beberapa fakultas sudah memiliki pesantren, yakni Pesantren Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Pesantren Mahasiswa Fakultas Syari’ah, dan Pesantren Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan.

Ma’had Al-Jami’ah difungsikan sebagai pondoki pesantren yang melakukan kajian ulumuddin dengan pendekatan doktriner sekaligus historis. Keberadaan Ma’had Al-Jami’ah juga memiliki peran dakwah bagi mahasiswa dan masyarakat sekitar. Peransi lainnya adalah peningkatan religiusitas, sekaligus peningkatan kecakapan intelektual.

Keberadaan Ma’had al_jami’ah di IAIN Surakarta itu penting karena;

Pertama, untuk menggabungkan corak kritis dalam belajar sains (misalnya Islamic studies) dengan penguatan ulumuddin (doktriner).

Kedua, untuk mencetak kaum akademisi dan intelektual aktivis yang memiliki basis religiusitas yang kuat dan pemahaman agama yang memadai.

Di Ma’had Al-Jami’ah tersebut para para mahasantri dididik untuk menjadi  santri intelektual yg kritis dan menjadi agen perubahan di masyarakat. Mahasantri di Ma’had Al-Jami’ah dibekali dengan berbagai macam mata kuliah kepesantrenan, diantaranya adalah tahfidz al-Qur’an, kajian fikih, tasawuf, bedah kitab dan pelatihan penulisan.

Gagasan dan usaha untuk peningkatan mutu Ma’had Al-Jami’ah terus dilakukan, dengan rekruitmen  ustadz dan sesuai standard, pengadaan fasilitas ma’had dan peralatan pembelajaran, perbaikan kurikulum dan model evaluasi.

Komentar ditutup.