Bg

Sambut Hari Santri Nasional, IAIN Surakarta Gelar Seminar Kepesantrenan

Diterbitkan tanggal 11 Oktober 2018

SINAR- Rabu (10/10) Ma’had Al-Jami’ah IAIN Surakarta menggelar “Seminar Kepesantrenan: Penguatan Pesantren Mahasiswa dalam Mencetak Kader Ulama yang Intelek” di Aula Rektorat Lantai III. Seminar menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. H Syamsul Bakri, M.Ag selaku Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama sekaligus pengasuh Mah’ad al-Jamiah IAIN Surakarta; Dr. H. Masmin Afif, M.Ag selaku Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klaten dan KH. Achmad Charir, SH sebagai Wakil Ketua Sekretariat Nasional KMPI. Acara ini digelar dalam rangka menyambut perayaan Hari Santri Nasional sekaligus Milad Kedua Ma’had Al-Jami’ah IAIN Surakarta. Seminar secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Dr. H. Abdul Matin Bin Salman, Lc, M.Ag.

Dr. H. Syamsul Bakri, M.Ag mengawali seminar dengan pemaparan mengenai sejarah pesantren di Indonesia serta pasang-surutnya dari masa ke masa. Menurutnya, pesantren merupakan lembaga pendidikan pribumi tertua di Indonesia. Pesantren sudah dikenal jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan sejak Islam masuk ke Indonesia. “Pesantren adalah lembaga pendidikan asli Indonesia, maka harus diuri-uri,” imbuhnya. Setali tiga uang, KH Achmad Charir pun menegaskan bahwa pesantren adalah tempat yang mulia karena selalu menghasilkan tokoh-tokoh besar di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

Sementara itu, Dr. H. Masmin Afif, M.Ag memaparkan konsen pemerintah melalui Kementerian Agama RI terkait upaya untuk memajukan pesantren. Data dari Kementerian Agama menunjukkan bahwa di seluruh Indonesia terdapat 326.327 lembaga Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PDPONTREN), yang memiliki 28.324.088 peserta didik serta 2.378.566 pendidik. Dengan jumlah yang begitu signifikan, maka Kementerian Agama melalui Direktorat PDPONTREN pun membuat kebijakan-kebijakan strategis. Kebijakan itu antara lain:  Penyaluran PIP Santri dengan anggaran 145 M; Beasiswa Santri Berprestasi dengan anggaran 38 M; Beasiswa Tahfidzul Qur’an dengan anggaran 8,7 M; Beasiswa Kader Ulama dengan anggaran 2 M; Pengembangan Ma’had Aly dengan anggaran 14 M; Imithan Wathony dengan anggaran 500 juta; Peringatan Hari Santri dengan anggaran 3,5 M; Pengembangan Pesantren di Wilayah 3T dengan anggaran 5 M; Intensif Ustadz dengan anggaran 9 M; Bantuan Sarana dan Prasaran Ponpes dengan anggaran 305 M; Perkemahan Pramuka Santri dengan anggaran 12 M; serta Life Skill dan Vokasi dengan anggaran 4,5 M.

Ketiga narasumber sepakat bahwa pesantren harus mampu menjadi agen perubahan di masyarakat.Pesantren mahasiswa harus bisa menjadi tempat untuk mencetak kaum akademisi dan intelektual yang memiliki basis religiusitas yang kuat serta pemahaman agama yang memadai. Mereka berpesan kepada para mahasiswa IAIN Surakarta supaya menjadi  santri intelektual yang kritis serta mampu mengambil peran sebagai agen perubahan di masyarakat untuk kemajuan bangsa Indonesia. (AR-Humas Publikasi) #banggaIAINSurakarta #SuksesAPT-A

Komentar ditutup.