Bg

PRODUKTIVITAS PUBLIKASI ILMIAH : IKHTIAR MENGURAI PROBLEM

Diterbitkan tanggal 25 Oktober 2018

Oleh: Dr.H. Muhammad Munadi, M.Pd
(Wakil Rektor II, Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan)

Penduduk muslim yang besar dan kekayaan negara muslim yang mencapai lebih dari satu triliun dolar dalam bentuk uang tunai semestinya menurut Ismail Serageldin (2008) dunia Muslim harus siap untuk ledakan ilmiah yang luar biasa. Istilah yang dipakai penulis ini adalah a remarkable scientific explosion. Pada kenyataannya tidak demikian seperti yang dinyatakan Rehab Abd Almohsen (2015) bahwa volume penerbitan sains dari negara-negara Muslim telah berkembang dalam dekade terakhir, tetapi keadaan keseluruhan penelitian di sana tetap buruk. Fakta lain menurut Athar Osama dan Nidhal Guessoum (2016) diketahui bahwa 1,6 miliar Muslim berkontribusi secara tidak proporsional terhadap pengetahuan dunia. Kondisi ini menurut Hille Ofek (2011:4) menyatakan semangat sains di dunia Muslim sama keringnya dengan gurun pasir. Hal itu dapat dilihat dari 239 negara yang masuk di website Scopus negara muslim masuk peringkat ke-20 ke bawah dan itu diduduki oleh Negara Turki. Berikut gambarannya:

Tabel 1. Produktivitas Publikasi Ilmiah Pada Negara Muslim di Web Scopus

 Grade Country Documents Citable Documents Citations Self-Citations Citations per Document H index
20 Turkey 531899 496582 5048456 1164227 9.49 368
22 Iran 448079 434656 3369979 1232563 7.52 257
34 Malaysia 248457 239537 1615633 421749 6.50 249
39 Mesir 177824 172042 1570448 308989 8.83 231
43 Saudi Arabia 155805 148836 1449661 234508 9.30 271
46 Pakistan 127817 121836 943372 243217 7.38 217
52 Indonesia 75220 72146 466289 71052 6.20 196
53 Nigeria 75086 71046 513997 105490 6.85 166
56 Algeria 57222 55916 353325 75167 6.17 137
57 Marocco 54330 51172 418452 79473 7.70 162
59 United Arab  Emirates 44413 41221 369499 38961 8.32 169
61 Bangladesh 40985 38897 362609 63493 8.85 167
66 Yordan 35267 34138 304831 36722 8.64 142
69 Lebanon 27306 24888 297197 28235 10.88 170
71 Kuwait 22167 21137 225963 24058 10.19 132
73 Qatar 21433 19819 173904 21178 8.11 120
76 Kazakhstan 19444 18926 70118 13641 3.61 81
77 Iraq 19023 18227 85546 12853 4.50 80

(Suber Scimagojr dimodifikasi)

Tabel di atas menunjukkan bahwa peringkat di scopus negara-negara muslim menduduki peringkat 20 ke bawah. Setelah Turki diduduki negara Iran pada posisi 20. Selain dua negara tersebut berada di peringkat 30 ke atas. ke semua negara Muslim tersebut berada di bawah negara berikut ini: Amerika Serikat, China, Inggris, Jerman, Jepang, Prancis, Kanada, Italia, India, Spanyol, Australia, Korea Selatan, Federasi Rusia, Netherlands, Brazil, Switzerland, Taiwan, Swedia, dan Polandia.

Berbeda lagi dengan kondisi dokumen penelitian pada sumber data Thomson Reuters / ISI Web of Science Database maka dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 2. Jumlah Publikasi Ilmiah Pada Thomson Reuters

No Negara Periode Publikasi
1996 – 2005 2006 – 2015
1 Turki 32128 103624
2 Iran 12429 94286
3 Malaysia 5928 34141
4 Mesir 15684 32251
5 Saudi Arabia 8438 31425
6 Pakistan 3939 25732
7 Tunisia 4524 14139
8 Marokko 6867 8913
9 Aljazair 3417 9901
10 Indonesia 2576 6643
11 Nigeria 0 0
12 United Arab Emirates 1908 4689
13 Bangladesh 0 0
14 Yordania 2371 4918
15 Lebanon 1422 3310
16 Kuwait 2676 3226
17 Qatar 364 2818
18 Kazakhstan 0 0
19 Iraq 415 2422

(Sumber dengan dimodifikasi : Athar Osama dan Nidhal Guessoum (2016)

Dua tabel di atas menunjukkan bahwa Indonesia dilihat dari tabel pertama berada di peringkat 7 (tujuh) sedangkan tabel kedua pada peringkat 10 (sepuluh). Ini menunjukkan bahwa Indonesia sangat rendah produktivitas publikasi ilmiah dikarenakan jumlah perguruan tinggi di Indonesia sangat banyak yaitu 4694 buah. Gambarannya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3. Jumlah Perguruan Tinggi di Indonesia

No Lembaga Negeri Swasta
1 Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat 0 0
2 Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi 123 3205
3 Kementerian Agama 98 1081
4 Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika 1 0
5 Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional 1 0
6 Badan Tenaga Nuklir Nasional 1 0
7 Badan Pusat Statistik 1 0
8 Kementerian Dalam Negeri 65 0
9 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral 2 0
10 Kementerian Hukum dan HAM 2 0
11 Kementerian Informasi dan Komunikasi 1 0
12 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 7 0
13 Kementerian Kelautan dan Perikanan 7 0
14 Kementerian Kesehatan 38 0
15 Kementerian Keuangan 1 0
16 Kementerian Perhubungan 13 0
17 Kementerian Perindustrian 18 0
18 Kementerian Pertanian 12 0
19 Kementerian Sosial 1 0
20 Lembaga Sandi Negara RI 1 0
21 Kementerian Pertahanan 8 0
22 Kepolisian 2 0
23 Lembaga Administrasi Negara 3 0
24 Kementerian Perdagangan 1 0
25 Badan Intelijen Negara 1 0
Jumlah 408 4286

 (Sumber Data dari Forlapdikti dengan modifikasi)

Jumlah sebanyak itu, semestinya kalau berasumsi setiap tahun setiap Lembaga memiliki hasil penelitian 2 buah hasil penelitian yang dipublish di scopus dan Thomson reuters maka akan ada kenaikan signifikan jumlah publish di indeksasi karya ilmiah tersebut. Akan semakin bertambah lagi kalau dilihat dari jumlah program studi sebagai pengembang ilmu maka akan semakin besar lagi jumlah produktifitas publikasinya.

MENGURAI PROBLEM RENDAHNYA PUBLIKASI ILMIAH

Problem lemahnya publikasi ilmiah yang terindeks internasional bisa dipecahkan dengan berbagai cara.  Athar Osama dan Nidhal Guessoum (2016) memberikan saran dengan  beberapa modifikasi diantaranya Perguruan tinggi perlu penguatan filsafat dan sejarah dalam melihat dan memahami relasi agama dan sain. Ketika ada kekuatan filsafat dan sejarah  dalam diri seorang ilmuwan menjadikan tidak ada lagi anggapan bahwa sain dan agama ada kontradiksi. Selain itu hampir semua komunikasi global dengan Bahasa asing maka diperlukan penguatan Bahasa asing. Bahasa asing terutama ketrampilan menulis (tulisan) dan berbidara (lisan) dikembangkan di perguruan tinggi agar apa yang dihasilkan oleh Pendidikan/pengajaran, penelitian serta pengabdian kepada masyarakat bisa dinikmati oleh bangsa lain yang berbeda Bahasa. Selain itu pengembangan dan penguatan bidang sains dan matematika dengan tujuan untuk pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana ilmu bekerja dan para ilmuwan berpikir, dan bagaimana menganalisis masalah. Yang tidak kalah penting dalam pembelajaran dan Pendidikan di kelas apapun pelajarannya harus dengan memakai metode praktik berbasis bukti (evidence-based practices)  dan Inquiry-based education (IBE). Penguatan dan pengembangan selain ilmu sosial dan humaniora yang selama ini sudah terjadi melalui banyak inisiatif dan inovasi baru tentang science, technology, engineering and mathematics (STEM).  Pengembangan kompetensi dosen terutama penulisan dan publikasi ilmiah serta penguatan otonomi untuk universitas bagi  inovasi ilmu dan pedagogis. Wallahu a’lam.

 

Rujukan:

Athar Osama and Nidhal Guessoum. (2016). Is this the dark age of the Muslim world? https://www.dawn.com/news/1268180

Hillel Ofek. (2011).  “Why the Arabic World Turned Away from Science,” The New Atlantis, Number 30, Winter 2011, pp. 3-23.  https://www.thenewatlantis.com/docLib/20110605_TNA30Ofek.pdf

Ismael Serageldin (2008). Science in Muslim Countries. Science  08 Aug 2008:Vol. 321, Issue 5890, pp. 745. http://science.sciencemag.org/content/321/5890/745

Rehab Abd Almohsen. (2015). Science in Muslim world improved but still dismal. 16-11-2015. https://www.scidev.net/global/r-d/news/science-muslim-world-research-funding.html

Komentar ditutup.