Bg

Sekisah Cerita Kebumen Campus Fair (KFC) 2019

Diterbitkan tanggal 15 Januari 2019

Mokhammad Fadhil Musyafa’ – Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam

Sejak pertengahan 2018 hingga awal tahun 2019, ruang publik dipenuhi oleh gemencarnya persoalan politik yang memperebutkan kursi kekuasaan tertinggi di Indonesia. Baik dari kursi calon legislatif maupun kursi calon presiden dan wakil presiden. Namun, dibalik itu semua tanpa orang awam sadari akan ada kemelut yang lebih mengguncangkan lagi menimpa anak muda di seluruh pelosok Indonesia. Persoalan ini tak kalah menariknya dengan bahasan tentang perebutan kursi kekuasaan. Yakni perebutan kursi di tingkat perguruan tinggi. Yang mana hal ini akan diperebutkan oleh berjuta-juta siswa yang kini duduk di tingkat akhir kelas XII SMA/MA/SMK di seluruh tanah air atau bahkan mereka yang satu/dua tahun telah lulus sebelumnya.
Kampus impian sudahlah pasti menjadi suatu kebanggaan yang mereka cari. Namun, hal itu juga harus diimbangi dengan pengenalan diri, pemahaman diri terhadap potensi yang melekat pada diri mereka. Yang kemudian hal tersebut menjadi suatu alat ukur bagi mereka sendiri untuk menimang-nimangnya, apakah mereka pantas berada di sana? apakah mereka mampu untuk di kampus yang mereka mau? ataukah justru akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri. Ditambah lagi dengan dukungan finansial kedua orang tua yang tentunya semakin menjadi alat pertimbangan mereka untuk melanjutkan ke tingkat selanjutnya atau bahkan terhenti di tingkat menengah atas saja.
Melihat kondisi permasalahan para siswa yang seperti ini dalam setiap tahunnya, himpunan mahasiswa Kebumen yang sudah berkuliah di UI, UGM, IPB, ITB, UIN Suka, UIN Walisongo, IAIN Surakarta, UNY, Universitas Airlangga, UB, UNS, UNNES dan sebagainya beriktikad membantu memberikan solusi dari permasalahan yang mereka alami. Himpunan mahasiswa yang berkuliah di luar Kebumen terhimpun dalam satu wadah yang disebut FKMK (Forum Komunikasi Mahasiswa Kebumen).
FKMK merupakan suatu forum yang mewadahi kontribusinya para mahasiswa Kebumen dalam rangka menjembatani generasi emas penerusnya menggapai mimpi di tingkat perguruan tinggi. Berawal dari sinilah Kebumen Campus Fair (KCF) itu terlahir untuk menjawab keresahan mimpi para generasi penerus Kebumen dalam langkahnya menuju perguruan tinggi. Perlu diketahui bahwa KCF ini lahir untuk pertama kalinya pada tahun 2010 yang diikuti dengan antusias para siswa SMA-sederajat se-Kabupaten Kebumen. Acara ini tidak lain berisikan Try Out SBMPTN, Stadium General Motivasion, dan Campus Expo yang berlangsung kurang lebih satu minggu.
Tepat di hari Minggu, 13 Januari 2019 FKMK menggelar puncak KCF ke-9 di Gedung Juang Kebumen yang diikuti oleh 30 kampus terbaik di Indonesia dan diikuti oleh 1300 siswa SMA-sederajat se-Kabupaten Kebumen. Merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan tersendiri tentunya bagi mahasiswa Kebumen di IAIN Surakarta yang berkesempatan menjadi salah satu peserta pengisi Campus Expo dari ke-30 peserta.
Perjuangan dan usaha IMAKE (Ikatan Mahasiswa Kebumen) IAIN Surakarta bisa dikatakan tak terbilang jumlahnya. Hingga pada akhirnya mereka memberanikan diri mengibarkan IAIN Surakarta untuk beradu gengsi dengan universitas-universitas ternama di Indonesia. Walaupun image IAIN Surakarta masih dibilang kampus yang kecil, kurang ternama dan kampus peralihan, akan tetapi IMAKE mencoba membuka mata publik bahwa IAIN Surakarta mampu menyaingi mereka (universitas ternama) di tingkat kualitas pendidikannya.
Meskipun baru bergabung di Kebumen Campus Fair (KCF) pada tahun 2019 ini, hal tersebut tidak mengerdilkan tekad dan niat IMAKE untuk menunjukan rasa bangga terhadap kampusnya IAIN Surakarta. Berkat dukungan dan dorongan dari berbagai pihak, IMAKE mampu memeriahkan stand IAIN Surakarta. Salah satunya adalah dorongan doa dan masukan-masukan dari sesepuh IMAKE, seperti: saudara Agus Nursodik, Muklis dkk yang senantiasa tulus dan bersabar mendampingi tetap kokohnya paseduluran IMAKE IAIN Surakarta.
Baru memang akan tetapi para sedulur IMAKE tidak tanggung-tanggung menghebohkan suasana stand IAIN Surakarta untuk menarik perhatian pengunjung (siswa kelas XII SMA-sederajat dan umum). Salah satunya dengan menyuarakan yel-yel khas Racana IAIN Surakarta, “I…A…I….N 3x I…A….I…..N……. Solo!”. Sontak suara kompak dari para sedulur IMAKE yang hadir di Gedung Juang mengundang pengunjung yang sedang bersilih-ganti mendatangi stand kampus lain berbalik ke stand IAIN Surakarta. Ada yang sekedar ingin melihat kehebohan anak-anak IMAKE, beramah-tamah, berfoto, meminta brosur bahkan bertanya-tanya mengenai IAIN Surakarta. Tidak segan-segan para sedulur IMAKE dalam menjelaskan mengenai IAIN Surakarta, mulai dari jalur masuknya, akreditasi kampus, jurusan-jurusan yang tersedia, dan biaya kuliah serta biaya hidup di IAIN Surakarta. Tidak luput juga penjelasan mengenai perubahan IAIN Surakarta yang akan bertransformasi menjadi UIN Surakarta turut dibeberkan oleh mereka. Sebagaimana penjelasan yang diutarakan Larasati mahasiswa Psikologi Islam ketika menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari para peserta, salah satunya Soimah dkk dari MAN 2 Kebumen.
Antusias para siswa kelas XII SMA-sederajat di Kebumen luar biasa massanya. Kurang lebih 1300 siswa memenuhi aula Gedung Juang dan halamannya. Keramaian mulai memuncak ketika mereka keluar dari ruang aula Stadium General Motivation KCF untuk beranjangsana menuju stand kampus yang tersedia. Satu persatu stand mereka kunjungi, tidak terlewatkan di stand nomor 10 bertuliskan IAIN Surakarta yang terhimpit oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Universitas Diponegoro Semarang. Perlu diketahui, kehebohan para sedulur dalam menarik perhatian pengunjung, mengalahkan pengunjung yang datang di kanan-kiri stand IAIN Surakarta. Bahkan di penghujung acara, UNDIP dan UIN Suka tutup lebih awal daripada IAIN Surakarta. Mungkin dikarenakan merasa tersaingi oleh kampus kecil yang ingin menjulang tinggi dengan antusias calon mahasiswa yang tinggi juga.
Putri Uli mahasiswa Sejarah Peradaban Islam selaku koordinator dekorasi pada kesempatan kali ini merasa puas dan terbayar sudah akan jerih payahnya menghias stand IAIN Surakarta menjadi semenarik mungkin dengan kondisi cuaca yang kurang stabil. Hujan deras yang merusak stand sebelum hari pelaksanaan, membuatnya merasa terpukul hancur lebur. Properti perlengkapan menjadi basah dan tidak terbentuk wujudnya. Namun, berkat bantuan teman-teman IMAKE, ia mampu mengembalikan stand menjadi menarik kembali dan pada akhirnya bisa mengundang pengunjung yang mengalahkan kanan-kirinya.
Di akhir acara Syafiq Sholeh Mahasiswa Tasawuf dan Psikoterapi selaku ketua KCF di IMAKE IAIN Surakarta berpesan bahwa walaupun keikutsertaan IAIN Surakarta baru tahun ini, tidak boleh mengecilkan hati sedulur IMAKE untuk tetap semangat, tetap menjaga solidaritas, kekompakan, berkoreksi diri dan lebih inovatif di kegiatan KCF mendatang. Akhir evaluasi dan kesan-pesan, IMAKE mengumandangkan jargonnya. IMAKE IAIN Surakarta?!! Enyong Rika Seduluran Siki Tekan Sak Lawase!

#banggaIAINSurakarta

#IMAKEmendukungIAINSurakartamenjadiUINSurakarta

#KebumenCampusFair

Penulis

Mokhammad Fadhil Musyafa'
Mahasiswa SPI

Komentar ditutup.