Bg

Adminisme

Diterbitkan tanggal 18 Januari 2019
Irwan Rohardiyanto Dosen IAIN Surakarta


Jujur saja ku tak mampu… Kemampuan untuk mengatakan kejujuran saat ini semakin sulit. Semakin banyak konsekuensi dari berkata jujur. Saat ini berkata jujur bisa disampaikan dalam media lisan dan tulisan. Saat penyampaian dalam media lisan, kejujuran akan terbaca oleh mitra tutur saat penutur mengatakan ujaran. Ujaran tersebut akan terekam dengan jelas baik fonem segmental maupun fonem suprasegmentalnya. Dengan menggunakan ragam lisan, ide dan gagasan akan tersampaikan dengan tidak kabur.

Peran ragam lisan dalam komunikasi sangat penting untuk menjaga keharmonisan. Hal ini berdampak pada kehidupan sehari-hari dalam masyarakat akademik maupun non akademik. Membicarakan persoalan rumah tangga, masalah lingkungan, masalah akademis dan lain sebagainya akan lebih mudah terpecahkan apabila menggunakan ragam lisan saling tatap muka saling bertanya, berdebat, bercengkerama, bercanda, dan lain-lain. Tentunya ragam lisan akan bersifat solutif dengan memperhatikan tingkat tutur.

One Way Communication

Katakanlah ada sebuah lembaga pendidikan sedang mengadakan penerimaan siswa-siswi baru. Pimpinan sekolah menginstruksikan stafnya untuk membuat grup Whatsapp (WA) yang beranggotakan orang tua calon siswa siswi baru. Tujuan pembentukan grup tersebut agar terjalin silaturahmi dan komunikasi antara para wali dan pihak sekolah. Pimpinan sekolah juga minta stafnya (selaku admin grup) untuk diikutsertakan dalam grup. Setelah tes seleksi masuk sekolah, terjadi saling tukar informasi dalam grup WA. Grup semakin gaduh saat pembahasan masalah sistem pembayaran biaya sekolah. Staf selaku admin menyarankan membayar sekian % dari total pembayaran. Salah satu anggota grup mengatakan bahwa bisa bayar semampunya asal menemui pimpinan sekolah. Terjadi keributan seolah-olah devide et impera antara admin grup dengan pimpinan sekolah. Pembahasan meluas, komunikasi menjadi kurang harmonis, akhirnya terjadi kegaduhan dalam grup WA tersebut. Solusi terakhir yaitu admin grup segera mengatur setelan menjadi “hanya admin yang dapat mengirim pesan”. Akhirnya komunikasi antara wali calon siswa dan pihak sekolah menjadi komunikasi satu arah (one way communication), yang semula dua arah atau banyak arah.

Komunikasi satu arah menjadi solusi untuk menghindari kericuhan antar anggota grup yang memang ingin menyampaikan suatu kejujuran. Namun, pola ini akan memangkas kreatifitas dan menghambat penyampaian gagasan. Ilustrasinya seperti seorang guru ibtidaiyah yang mengirim pesan (bertanya, menyuruh, meminta, mengharap) kepada siswanya. Sang guru menyampaikan pesan, “anak-anakku, jangan lupa besok senin bawa peralatan kebersihan! Para siswa menyahut, yaa buu!”. Ilustrasi ini merefleksikan komunikasi hanya berjalan satu arah antara guru ke murid dan mengharap siswa tidak menjawab dengan berbagai macam jawaban. Komunikasi satu arah juga sama atau hampir sama dengan menempelkan informasi atau pengumuman lewat mading (majalah dinding) atau ditempel di pos ronda, pohon talok atau tiang listrik. Ini berarti terjadi kemunduran dalam dinamika komunikasi yang katanya sudah masuk ke zaman disruption era.

Gagalnya Illocutionary Acts

Dari sudut pandang tindak tutur (kekuatan ujaran), penggunaan ragam tulisan dalam media (WA) mengurangi fungsi dari illocutionary acts (tindak ilokusi). Dalam tindak tutur, dikenal tiga hal yaitu lokusi, ilokusi dan perlokusi. Tindak lokusi merupakan wujud tuturan itu sendiri. Tindak ilokusi yaitu maksud dari tuturan. Perlokusi yaitu akibat/ dampak dari tuturan. Penggunaan ragam tulisan melalui WA berpotensi mengurangi maksud dari tuturan  (tindak ilokusi). Tindak ilokusi antara lain memberi tahu, meminta, menyuruh, mengingatkan, melarang, menolak, menerima, setuju, bertanya, membantah, memuji, mengejek dan lain sebagainya tidak bisa terrefleksi dengan jelas apabila berkomunikasi melalui ragam tulisan dalam media elektronik. Sehingga level komprehensi mitra tutur bisa berbeda-beda dan mengakibatkan multi interpretasi.

Gagalnya Fonem Suprasegmental

Dari sudut pandang kajian bunyi, ragam lisan merupakan ragam terbaik untuk mendeskripsikan maksud, keinginan dari penutur. Sebaliknya, komunikasi ragam tulisan akan terjadi hambatan mengenai fonem suprasegmental. Fonem suprasegmental adalah bagian tekecil dari bunyi yang akan kelihatan apabila diujarkan seperti intonasi, penekanan, titi nada, jeda, dan lain sebagainya. Dalam ragam tulisan, akan sulit menerka-nerka maksud dari tulisan penutur, apakah hanya sekedar memberi informasi atau menyuruh. Hal ini dikarenakan tidak bisa menangkap fonem suprasegmental dari ujaran/ tulisan tersebut.

Dari kendala-kendala tersebut, ‘kegaduhan’ sering terjadi di grup WA karena kadang terjadi ketidak berterimaan antara proses encoding (mengirim pesan) dan proses decoding (menerima pesan) suatu code (pesan, ide, gagasan, dll). Ujung-ujungnya akan terjadi proses adminisme yaitu pengaturan setelan grup agar hanya satu pihak yang bisa menyampaikan pesan. Proses Adminisasi atau adminisme ini secara tidak langsung akan ‘memenjarakan’ ide-ide brilian yang cemerlang. Dan itu tentunya sangat bertentangan dengan salah satu dari 4 unsur terpenting terbentuknya bahasa. 4 unsur tersebut yaitu bahwa bahasa itu sistem, kesepakatan, digunakan dan untuk berkomunikasi dengan yang lainnya. Unsur untuk berkomunikasi antara penutur dan mitra tutur inilah yang tidak di’patuhi’ saat terjadi adminisme grup WA karena proses encoding dan decoding tidak berjalan dengan semestinya. Bahkan ada beberapa member grup yang memiliki uneg-uneg/ gagasan tidak berani mengirim pesan karena takut terjadi “chaos” dan akan di’admin’kan grupnya. Selain itu, banyak beberapa member grup yang sudah melaksanakan kewajiban dan ingin meminta kejelasan haknya (sebut saja ‘upah’) ingin curhat atau menyampaikan kebenaran secara jujur, tidak mampu menyampaikan di grup WA karena khawatir di’admin’kan. Dari berbagai hal diatas, sebagai insan sosial yang membutuhkan komunikasi dengan insan yang lain, seyogyanya harus bisa menahan diri, berprasangka baik, memutus tali keburukan dan memanfaatkan teks sesuai konteks serta menyelaraskan tema dengan rema. Terjalinnya silaturahmi yang hangat dan eratnya ukhuwah Islamiyah tetap terjaga meskipun terjadi adminisme disana-sini. Semoga.  

Penulis

Irwan Rohardiyanto
Dosen IAIN Surakarta

Komentar ditutup.