Bg

Masihkah Generasi Z Perlu Asupan Dongeng?

Diterbitkan tanggal 28 Maret 2019

Oleh: Triningsih (Pustakawan Muda IAIN Surakarta)

#banggaIAINSurakarta

Kita tinggalkan bahasan mengenai generasi milenial. Marilah kita sedikit membahas tentang Generasi Z yang nota bene sejak lahir sudah akrab dengan yang namanya gadged. Terbersit dalam benak pikiran, akankah Generasi Z tersebut masih membutuhkan asupan dongeng? Dimana dongeng itu dianggap sebagai cerita yang mengada-ada.

Dongeng itu merupakan proses kreatif bagi anak-anak. Terjadi keseimbangan antara otak kanan dan otak kiri. Ketika dongeng kita sampaikan ke anak-anak, maka disitu terjadi sebuah proses yang tidak hanya aspek intelektual yang didapatkannya, melainkan aspek-aspek yang lain juga terlibat didalamnya. Aspek-aspek tersebut adalah aspek kepekaan, kehalusan budi, emosi, seni, fantasi, dan imajinasi.

Dongeng juga menawarkan kesempatan menginterprestasi anak untuk mengenali kehidupan diluar pengalaman langsung. Secara tidak langsung anak dikenalkan berbagai cara, berbagai pola, serta pendekatan tingkah laku manusia sehingga bekal menghadapi masa depan telah anak dapatkan.

Multitasking

Generasi Z adalah mereka yang lahir pada rentang waktu antara tahun 1995 sampai dengan tahun 2010. Generasi Z disebut juga dengan iGeneration atau generasi internet. Bisa juga disebut dengan Generasi NET. Generasi Z mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu (multi tasking).

Bagi generasi Z, informasi dan teknologi merupakan bagian dari kehidupannya, karena mereka lahit tatkala akses informasi sudah menjadi budaya global sehingga berpengaruh pada nilai, pandangan, dan tujuan hidup mereka. Apa saja yang dilakukan generasi Z kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Generasi ini sudah sejak kecil kenal teknologi dan akrab dengan gadged canggih dimana secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap kepribadiannya.

Wajah sumringah dan riang gembira menyelimuti anak ketika dongeng diperdengarkan kepada mereka. Wajah polos tanpa beban, namun menyimpan energi positif terbersit dalam imajinasi mereka. Dongeng memang sungguh luar biasa manfaatnya, apalagi untuk anak generasi Z yang notabene sudah akrab sekali dengan gadged sejak lahir.

Seringkali dongeng dianggap sebagai cerita khayalan atau bohong serta mengada-ada dan tidak ada manfaatnya sama sekali. Terkadang dongeng jika dirasakan sesekali diluar batas kewajaran yang tidak masuk akal. Apakah benar dongeng itu tidak bermanfaat?

Definisi dongeng menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:274) adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh); perkataan (berita dsb) yang bukan-bukan atau tidak benar.

Masa Lalu

Jika kita menengok barang sebentar saja ke masa lalu, seni dongeng ternyata sudah tumbuh sejak berabad-abad silam di Indonesia. Banyak guru besar menggunakan metode mendongeng dalam menyampaikan pesan-pesan, hikmah, dan pengalaman mereka kepada para muridnya. Metode mendongeng merupakan salah satu metode yang manjur untuk menyampaikan sebuah ilmu.

Pendongeng juga sudah ada pada zaman kerajaan. Bahkan, para pendongeng hidupnya dijamin oleh raja. Gelar kehormatan dari kerajaan pun mereka dapatkan. Para pendongeng biasanya diundang ke istana sebagai obat pelipur lara tatkala raja sedang mengalami duka lara. Para pendongeng kala itu mempunyai peran yang sangat penting sebagai juru hibur bagi kerabat kerajaan.

Begitu banyak manfaat yang anak dapatkan dari aktivitas dongeng. Oleh karena itu, marilah di Hari Story Telling Dunia 20 Maret ini, kita lestarikan aktivitas dongeng kepada generasi Z, bukan hanya saat memperingati World Story Telling Day  seperti yang diperingati 20 Maret lalu.. Mari, letakkan gawaidan lihatlah ekspresi wajah generasi Z kita tatkala mendengarkan dongeng. Jangan sampai ritual malam dongeng sebelum tidur tergantikan oleh gadged sebelum tidur. Rasakanlah keajaiban yang terjadi dari aktivitas mendongeng. SELAMAT MENDONGENG …Artikel ini telah dimuat di Surat Kabar Harian (SKH) Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, Kolom Opini, Edisi Sabtu 23 Maret 2019, halaman 4.

Penulis

Triningsih
Pustakawan Muda IAIN Surakarta

Komentar ditutup.