Bg

Perkembangan Islam & Berdirinya Pondok Pesantren Di Kp. Dakaka Kec. Cigudeg Bogor

Diterbitkan tanggal 28 Mei 2019
Oleh: Indah Putri Ningsih (Mahasiswa BKI Semseter 2)

Abstrak

Artikel ini dibuat untuk memberi informasi kepada teman teman bagaimana perkembangan islam di suatu daerah di bogar dan bagaimana pertama kali berdirinya sebuah pesantren. Sebagaimana kita perlu mengetahui perkembagan perkembangan islam di setiap daerah, dan agar teman – teman termotifasi untuk  bisa lebih mendalamI DAN mempelajari islam di daerahnya masing – masing.

Masuknya islam pertama kali di kp. Kadaka berjalan dengan lancar dan damai, karena banyaknya masyakarakat kampung yang ingin mempelajari islam. Dan pada akhirnya banyak tokoh islam yang bermunculan di kp. Kadaka ini dan memperkelnalkan islam dengan cara mengobati orang sakit, dan memberikan ilmu bercocok tanam. Dan munculah pesantren pertama kali di kp. Kadaka  saat itu karena pengaruh suatu kampung yang membuat suatu kyai yang sederahana untuk membangun pesanteren di kp. Kadaka.

Pendahuluan

Pentingnya kita mempelajari sebuah sejarah peradaban islam, karena dengan mempelajari sejarah kita mampu menghormati apa yang sekarang sudah dimiliki oleh kita. Sejarah peradaban islam adalah salah satu mata kuliah yang penting di universitas/ institut islam. Mahasiswa harus mampu dan paham dengan sejarah sejarah islam pada masa itu.

Sejarah peradaban serdiri adalah terjemahan dari bahasa Arab al- Hadha- rah al- Islamiyyah. Kata arab ini sering juga diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia dengan kebudayaan indonesia.  “Kebudayaan” dalam bahasa arab adalah al-Tsaqafah. [1] Sedangkan peradaban terbentuk dari kreasi-kreasi kebudayaan manusia dalam rangka menuju hidup berperadaban tunggi.

Jadi peradaban islam sendiri merupakan proses dan produk kreatifitas umat dalam lingkup pengaruh nilai-nilai islam. Seiring perkembangan dan peradaban islam , maka konsekunsi logisnya adalah islam masuk ruang pulis atau apa yang oleh Jose Cassanova disebut sebagai deprivatisasi agama. Deprivatisasi agama telah membawa pada kegemilangan penyebaran islam, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.[2]

Peradaban islam juga terinsipirasi dari semangat tauhid yang termanifestasi dalam akumulasi kreatifitas umat. Kreatifitas umat islam adalah kreatifitas yang diilhami nilai dasar islam maupun kreatifitas muslim yag tidak bertentangan dengan nilai dasar islam. Kebudayaan merupakan pilar dasar untuk meningkatkan keadaban manusia. Walaupun memiliki corak beragam, namunseluruh bentuk-bentuk identitas peradaban islam memeiliki semngat tauhid yang sama. Secara factual peradaban islam dapat dikatakan sebagai sebuah peradaban yang memiliki corak kebudayaan yang beragam dalam kesatuan prinsip Tauhid. [3]

Disaat pentingnya mempelajari sejarah peradaban islam, kita juga harus bisa mempelajari dan mengetahui perkembangan islam di daerah kita setelah masuknya islam di daerah kita apa yang lalu dikembangkan oleh tokoh tokoh agama islam di suatu daerah itu. Dan yang dilakukan di Kp. Kadaka ini dengan cara mendirikan pesantren salah satunya, agara para masyarakat semakin mendalami ajaran islam itu sendiri.

  Pesantren juga terbagi menjadi 2 yaitu salah satunya adalah pesantren tradisional (salafiyah) mengacu pada pola pembelajaran yang mengedepankan kitab kuning tanpa terlalu menekankan adanya lembaga pendidikan formal semacam madrasah atau sekolah. Untuk pulau Jawa, pesantren model ini banyak ditemui terutama di provinsi Banten.[4] Dan kp. kadaka ini dekat dengan Banten yang posisinya Bogor bagian barat juga lebih banyak mendirikan dan menerapkan pondok pesantren salafiyah ini.

Namun seiring berjalannya waktu, banyak para tokoh yang mendirikin pesantren – pesantren modern agar menarik para genari milenial saat ini. Sedangkan pengertian pesantren modern sendiri adalah pesantren yang telah melalukan pembaharuan (modernisasi) dalam sistem pendidikan, kelembagaan, pemikiran dan fungsi. Definisi ini diadptasi dari kritik Nur- cholis Madjid (1997) terhadap lembaga pendidikan tradisonal yang sekaligus juga tawaran Cak Nur dalam memodernisasi pendidikan.[5]

Dengan kita mencari dan mempelajari berkembangnya islam dan terbentuknya pondok pesantren di kp kita masing masing kita mampu menghormati tokoh tokoh yang sudah berjasa dalam penyebaran islam waktu itu di kp. kadaka ini.

Metodologi

Sejarah Islam di Jawa Barat, tidak akan terlepas dari penyebaran islam di wilayah jawa yang di lakukan oleh Sembilan Wali atau biasa kita menyebutnya Wali Songo secara keseluruhan. Sunan Gunung Djati seorang raja dan juga wali adalah tokoh yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Jawa Barat, Sunan Gunung Djati juga merupakan tokoh yang berpengaruh dalam kekuasaan politik Islam di Jawa Barat yang meliputi Cirebon dan Banten.

Sebelum Sunan Gunung Djati atau nama aslinya Syarif Hidayatullah menyebarkan Agama Islam di tataran Sunda, ternyata sudah ada gerakan penyebaran Islam di wilayah cirebon, yang diplopori oleh Syekh Datuk Kahfi di Cirebon dan Syekh Quro di Karawang.

Terobosan dalam Gerakan Islamisasi yang telah dilakukan oleh Sunan Gunung Djati atau Syarif Hidayatullah dilakukan dengan pendekatan agama, politik, ekonomi, dan kultural atau kebudayaan. Dengan dilakukannya pendekatan semacam itu, Islam tersebar ke seluruh Wilayah Jawa Barat dengan waktu yang relatif singkat. Sumber-sumber penyebaran Agama Islam di Tanah Jawa Barat yang di lakukan oleh Sunan Gunung Djati,lebih banyak didapatkan dalam sumber-sumber tradisional berupa wawacan, babad dan juga cerita rakyat. Sumber-sumber tersebut sebenarnya masih perlu diadakan penelitian lanjut, untuk mempertegas keberadaan Sunan Gunung Djati dalam gerakan penyebaran Islam di Jawa Barat.

Dengan dilakukannya penelitian ulang yang lebih mendalam mengenai sumber-sumber Sejarah Islam di Jawa Barat, akan lebih jelas sosok Sunan Gunung Djati ada di antara realitassejarah dan mitosbelaka.[6]

Dan kp. Kadaka ini adalah sala satu yang sanagt menerima sekali masukya islam, dan dengan cepat para tokoh yang berasal dari banten berdatangan untuk menyebarkan islam walau di kp. kadaka ini dengan cara mengobati nama tokoh itu adalah Mbah Buyut Hambali, bahkan beliau juga memberi ilmu bercocok tanam. Tokoh lainnya yang menyebarkan islam di kp. kadaka ini adalah Mbah Buyut Sandong beliaulah yang mulai memperkenalkan pesantren di kp. kadaka ini. Lalu ada seorang tokoh yang sederhana yang datang ke kp. kadaka untuk mendirikan pondok pesantren yang berdisi hingga saat ini.

Pembahasan

Awalmulanya di Kp. Kadaka ini memang sudah banyak yang memeluk agama islam, namun masih banyak warga yang awam pada agama islam karena mereka hannya mengandalkan sejarah jaman dahulu. Di kp. kadaka dulu jika ada yang melakukan kesahalan hanya mengucapkan “pamali ceuk kolot bareto ge ulah sok kikituan” yang artinya ( pamali ) hal yang tidak boleh dilakukan terkadang yang di bilang pamali itu juga memang dilarang oleh agama namun warganya saja yang kurangnya pengetahuan tentang agama islam ini.

Lalu suatu hari ada beberapa tokoh agama yang berasal dari bogor dan banten berdatangan ke kp. kadaka ini tokoh – tokoh ini seseorang yang biasa saja. Mereka datang untuk memperkenalkan menyebarkan agama islam kepada warga sekitar. Para tokoh ini memperkenalkan dan menyebarkannya ada yang dengan cara mengobati, jadi tokoh ini selalu mendatangi orang sakit lalu mengobatinya dengan cara membacakan ayat – ayat al- Quar’an dan banyak sekali warga yang excited. Bahkan ada juga tokoh yang memperkenalkan agama islam dengan cara bercocok tanam, jadi para tokoh ini memberikan pengarahan warga untuk bercocok tanam sambil memperkenalkan agama islam itu sendiri.

Namun disaat pesatnya para tokoh agama isam yang masuk di kp. Kadaka ini masyarakat banyak yang terima dan merespon dengan baik, dengan masuknya gama islam di kp. Kadaka ini. Bahkan warga memang mengingkan suatu tokoh agama islam yang besar di kp sebelah ini untuk masuk ke kp. Kadaka yang dikenal oleh warga, tokoh agama ini bernama Abah Nahrowi nama ini adalah sebutan para warga dan sekitarnya. Dan sejak itulah warga semakin antusias untuk mempelajari agama islam.

Setelah masuknya agama islam dan banyaknya masyarakat yang menerima, para tokoh mengembangkan agama islam dengan mendirikan pesantren agar masyakart semakin mendalami ajaran agama islam itu sendiri. Pada saat itu pesantren hanya ada sistem pembalajaran  salafi.

Pesantren Salafi ? Pesanten Salafi adalah bentuk asli dari lembaga pesantren. Sejak pertama kali didirikan oleh Wali Songo, format pendidikan pesantren adalah bersistem salaf. Kata salaf berasal dari bahasa Arab السلف. Dari akar kata yang sama ada beberapa makna dari kata ‘salaf’ yang berbeda-beda.[7]

Pesantren salafi ini dikenal sebagai pesantren yang hanya mempelajari agama saja yang mempelajari al- Qur’an dan kitab – kitab kuning saja tetapi tidak mempelajari akademik. Bukan hanya itu santri salafi lebih dominan dengan yang selalu memakai sarung,bukan hanya itu penerimaan santri pesantren salafi ini tidak dengan di tes siapa saja yang mau belaja bisa di terima. Hanya saja pembagian kelasnya dipilih sesuai kemampuan santri itu sendiri. Bukan hanya itu pesantren salafi berafiliasi kultural ke Nahdlatul Ulama (NU) dengan kekhasan fikih bermadzhab Syafi’i, akidah tauhid bermadzhab Asy’ariyah atau Maturidiyah, dan mengajarkan ilmu tasawuf seperti karya Al Ghazali dan lainnya. Amaliyah khas seperti shalat tarawih 20 rakaat plus 3 rakaat witir pada bulan Ramadan, membaca qunut pada shalat Subuh, membaca tahlil pada tiap malam Jum’at, peringatan Maulid Nabi atau melakukan pembacaan kitab-kitab maulid, peringatan Isra’ Mi’raj, dan semacamnya.

Lalu suatu ketika pada tahun 1992 murid salah satu tokoh agama yang menyebarkan islam di kp. kadaka ini mendirika suatu pesantren yang dinamkan Miftahul Ula dengan nama pendirinya adalah Kh. Ujang Farokhi bin bp H. Uki Lam Hari. Bliau adalah pendiri pertama peantren di kp. Kadaka, dengan kerendahan hati dan kesabarannya beliau mendatangi warga dan mengajak para warga bukan hanya anak saja ibu – ibu dan bapak – bapak di ajak oleh beliau untuk belajar ngaji.

Dan pada akhirnya banyak sekali warga dari kalangan anak kecil dewasa hingga orang tua berbondong bondong untuk datang ke pasantren untuk belajar mengaji dan ada beberapa anak yang di pesantrenkan di tempat itu.

Bahkan pada akhirnya pesantren Miftahul Ula ini terkenal dan banyak yang ingin mempelajari agama islam di pesantren ini. Buakn hanya itu yang pesantren di tempat ini bukan hanya warga sekitar kp. Kadaka saja tapi dari luar daerah pun ada, ada yang dari madura ada yang banten dan masih banyak lagi.

Seiring dangan kemajuannya jaman pesantren Miftahul Ula ini pun berkmebang dan mulai memperkenlakan para hafidz al-Qur’an dan lain sebagainya. Bahkan para pengurus pesantren ini mengembangkan lingkungannya ini selalu diadakannya pengajian mingguan ibu- ibu dan bahkan bapak – bapak. Bahkan di bogor bagian barat itu ada pengajian yang namanya pengajian al- Muawanah yang mad’u nya itu sebagian warga bogor bagian barat, dan kp. kadaka ini sering kali dijadikan tempat kunjungan untuk pengajain itu.

Dan pesantren Miftahul Ula ini berkembang samapi saat ini dan mayoritas penduduk kp. Kadaka adalah beragama islam dan yang non muslim hanya ada 1 2 orang saja.

Daftar Pustaka

Dr. Yatim Badri, M.A. 2018. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada.

Bakri Syamsul, S.Ag., M.Ag. 2011. Peta Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta. Fajar Media Press.

Drs. A. Tuanaya Thaha M. Malik, Dr. Farida Anik, M.Hum, Drs. Ali Huda, Dra. Habibah Neneng, Dra. Anwar Sumarsih, M.Pd, Dra. Marfuah. 2007. Jakarta. Modernisasi Pesantren. Dapartemen Agama RI Balai Penelitian Dan Pengembangan Agama.

http://www.nu.or.id/post/read/42981/jumlah-pesantren-tradisional-masih-dominan

https://ibnuasmara.com/


[1] Sejarah peradaban islam dirasah islamiah II Dr. Badri Yatim, M.A.

[2] Peta sejarah peradaban islam Syamsul Bakri, S.Ag., M.Ag.

[3] Peta sejarah peradaban islam Syamsul Bakri, S.Ag., M.Ag.

[4] http://www.nu.or.id/post/read/42981/jumlah-pesantren-tradisional-masih-dominan

[5][5] Modernisasi Pesanten Drs. A. Malik M. Thaha Tuanaya, M.Si., Dra. Anik Farid, M.HUM., Drs. Huda Ali., Dra. Neneng Habibah., Dra. Marfuah

[6] https://ibnuasmara.com/sejarah-islam-di-jawa-barat/

[7] https://darunnajah.com/perbedaan-antara-pesanten-salafi-dan-modren/

Penulis

Indah Putri Ningsih
Mahasiswa Semester 2 Jurusan Bimbingan Konseling Islam Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta

Komentar ditutup.