Bg

RAMADHAN : ANTARA NORMATIVE, DAN LIVED UNTUK AGENDA PENELITIAN

Diterbitkan tanggal 15 Juni 2019
Oleh: Dr. H. Muhammad Munadi, M.Pd – Wakil Rektor II Bagian ADUM-PK

Walaupun puasa Ramadhan sudah berlalu, akan tetapi ada beberapa catatan penting yang bisa diagendakan untuk pengembangan pada tahun-tahun berikutnya. Hal ini disebabkan Ramadhan merupakan bulan yang paling unik karena ada kegiatan berpuasa selama sebulan penuh. Ini berbeda dengan bulan yang lainnya karena hampir semua umat Islam mempersiapkan secara serius baik dalam tuntutan ritual, sosiologis maupun kultural. Namun ibadah puasa walaupun dilaksanakan selama sebulan akan tetapi penyiapannya tidak seserius ibadah haji. Haji meskipun hanya dilaksanakan ibadahnya kurang lebih 8 hari efektif, akan tetapi penyiapannya sangat luar biasa – dari kesehatan termasuk teknis ibadahnya melalui kegiatan manasik haji. Bahkan dilaksanakan minimal 10 kali manasik. Belum lagi banyak para calon jamaáh haji mengambil beberapa tempat belajar manasik – ada yang melalui IPHI, KBIH maupun yang lainnya. Jadi ibadahnya semakin mantap secara kualitas setelah ikut manasik.

Kalau Ramadhan dipersiapkan secara serius maka setidaknya akan ada variasi keragaman jenis-jenis kegiatan keagamaan sebelum, saat dan setelah Ramadhan. Berbicara tentang Ramadhan dan dinamikanya di Jawa pernah dilakukan penelitian oleh André Möller yang sudah dibukukan dengan judul: “Ramadan In Java The Joy And Jihad Of Ritual Fasting”. Puasa Ramadhan menurutnya merupakan sebuah kegembiraan sekaligus jihad, digambarkan sangat menarik karena meneliti sebelum Ramadhan yaitu saat bulan Ruwah (Sya’ban) sampai dengan bulan Syawal. Pernak-perniknya sangat banyak dan gambarannya cukup bagus dalam mendiskripsikan ritual apa saja yang ada dan hidup selama menjelang, saat dan setelah bulan Ramadhan.

Penelitian ini memang perlu didalami oleh para cendekiawan muslim sesuai saran peneliti yaitu meneliti tidak hanya di Jawa saja dan pedesaaan tetapi juga ada keseimbangan penelitian di less Islamic, less orthodox, orthodoxy dan  a ‘strict religiosity. Penelitiannya bersifat sosiologis dan antroplogis.  Yang agak luput dari deskripsi penelitian André Möller berkaitan dengan perilaku zakat di saat menjelang berakhirnya puasa Ramadhan. Namun dari kesemua paparan André Möller yang menarik adalah penelitiannya melihat secara mendalam Ramadalan dalam cara pandang normatif, tertulis, dan hidup di masyarakat Jawa terutama di Blora dan Yogyakarta.

Penelitian yang lebih spesifik di tingkatan keluarga dilakukan Zahra Alghafli, Trevan G. Hatch, Andrew H. Rose, Mona M. Abo-Zena, Loren D. Marks dan David C. Dollahite (2019: 7-9) menunjukkan bahwa puasa Ramadhan mengembangkan 3 dimensi dalam keluarga yaitu : Dimensi 1: Inklusi dan Keterlibatan Semua Anggota Keluarga di bulan Ramadhan, Dimensi 2: Kontrol, Disiplin, dan Konteks Suci Ramadhan dan Dimensi 3: Keintiman, Persatuan, dan Kebersamaan selama Ramadhan. Lebih spesifik lagi penelitian di tingkatan individual dilakukan Zeynep B. Ugur. (2019) menunjukkan bahwa orang yang berpuasa secara penuh memiliki skor kebahagiaan tertinggi. Ketiga penelitian tersebut menunjukkan bahwa banyak agenda penelitian yang bisa dilakukan perguruan tinggi terutama berkaitan dengan penelitian keagamaan. Penelitian yang dimaksud berkaitan dengan peristiwa Puasa Ramadhan. Kalau dibuat matrik, maka bisa dibuat penelitian tidak hanya di tingkatan normative saja tetapi juga di tingkatan lived ramadhan. Secara umum gambarannya sebagai berikut:

Tabel 1. Penelitian Ramadhan Berdasar Waktu


Tabel di atas dapat dipilah sesuai waktu penelitian, sebagai berikut:

Tabel 2. Penelitian Ramadhan Jelang Awal Puasa

Jelang awal Ramadhan lebih banyak penelitian bersifat lived yang ada di masyarakat, karena bersifat fenomena di setiap daerah yang bisa saja berbeda satu daerah dengan daerah lain. Kajian disiplin ilmunya juga sangat beragam – bisa antropologi, sosiologi, dan yang lainnya.

Agak berbeda ketika saat puasa Ramadlan, penelitian yang dilakukan bisa bersifat normative sekaligus yang lived. Gambarannya sebagai berikut:

Tabel 3. Penelitian Saat Puasa Ramadlan

Ragam kegiatan penelitiannya sangat banyak dan masih berpeluang dikembangkan yang lebih spesifik. Seperti kegiatan shalat Tarwih bisa diteliti bacaan surat yang dibaca oleh Imam, prosesi tarwih ada bilal yang memberikan aba-aba pelaksanaan shalat tarwih, keadaan ma’mum anak-anak, dzikir yang diamalkan saat setelah shalat witir, dan yang lainnya. Keragaman ini akan semakin sedikit ketika jelang akhir Puasa Ramadlan. Berikut gambarannya:

Tabel 4. Penelitian Jelang Akhir Puasa Ramadlan

Penelitian akhir Ramadhan lebih banyak berkaitan dengan fenomena malam menjelang berakhirnya puasa, terutama kehidupan akhir malam di tanggal-tanggal ganjil. Walaupun ragama kegiatannya sedikit tetapi banyak fenomena yang bisa diteliti. Penelitian tentang fenomena penerimaan dan pembagian zakat juga menarik baik secara kualitatif maupun kuantitatif di hampir semua masjid maupun musholla dalam bentuk kepanitiaan.  Kegiatan zakat ini memang belum sesemarak dan semeriah ketika kegiatan penyembelihan Qurban.

Penelitian saat awal Syawal, bisa dipaparkan ragam kegiatan yang bisa dikaji sebagai berikut:

Tabel 5. Penelitian Saat Awal Syawal

Tabel di atas menunjukkan bahwa penelitian pada saat awal bulan syawal bentuk perayaannya sangat banyak secara lived dan lebih menarika lagi kalau diteliti secara kualitatif. Penelitiannya akan sangat hidup jika benar-benar didalami secara factual tanpa ada judgement normatifnya. Kalau merujuk Cresswell (2003), penelitian saat Ramadhan bisa diteliti dengan ragam penelitian kualitatif yaitu : biografi, fenomenologi, grounded theory, etnografi, dan studi kasus. Bidang keilmuannya bisa antropologi, sastra, sejarah, komunikasi, psikologi, sosiologi, filsafat, antropologi, politik, dan ilmu sosial lainnya.

Penelitian berkaitan dengan Ramadhan akan mengembangkan dimensi Islam  baik dalam cara pandang normatif, tertulis, dan yang hidup di masyarakat. Ketika meluas semacam itu memungkinkan Islam khas Indonesia akan muncul dan bisa saja berbeda dengan negara lain. Kalau berbedapun adalah sebuah kewajaran karena lived masing-masing daerah maupun negara merupakan khazanah yang sunnatullah. Wallahu a’lam.

Referensi

André Möller. (2005). Ramadan In Java The Joy And Jihad Of Ritual Fasting. Department of History and Anthropology of Religions Lund University Lund, Sweden.

Creswell, J. (2003). Research design: Qualitative, quantitative and mixed methods approaches (2nd ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.

Zahra Alghafli, Trevan G. Hatch, Andrew H. Rose, Mona M. Abo-Zena, Loren D. Marks dan David C. Dollahite. (2019). A Qualitative Study of Ramadan: A Month of Fasting, Family, and Faith. Religions 2019, 10(2), 123. https://www.mdpi.com/2077-1444/10/2/123/htm

Filipe Campante & David Yanagizawa-Drott, 2015. “Does Religion Affect Economic Growth and Happiness? Evidence from Ramadan,” The Quarterly Journal of Economics, Oxford University Press, vol. 130(2), pages 615-658. https://www.nber.org/papers/w19768

Zeynep B. Ugur. (2019). Does Ramadan Affect Happiness? Evidence from Turkey. Archives for The Psychology of Religion. First Published March 1, 2019. https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1163/15736121-12341358?icid=int.sj-abstract.similar-articles.1&journalCode=prja

Komentar ditutup.