Bg

STUDIUM GENERAL FUD “ISLAM DAN PERADABAN KEBANGSAAN DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0”

Diterbitkan tanggal 16 Agustus 2019

SINAR- Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) IAIN Surakarta menggelar studium general untuk mahasiswa baru tahun ajaran 2019/2020 pada hari Jumat (16/8) yang diselenggarakan di Gedung Graha IAIN Surakarta. Studium general yang bertema “Islam Dan Peradaban Kebangsaan Di Era Revolusi Industri 4.0” dihadiri oleh seluruh pejabat, dan dosen di lingkungan FUD dan sebanyak 738 mahasiswa baru.

Dekan FUD Dr. Imam Mujahid, S.Ag., M.Pd. dalam sambutannya menyampaikan bahwa Studium General merupakan kegiatan rutin yang diadakan setiap tahun ajaran baru untuk men “charge” mahasiswa baru sebelum memasuki kegiatan perkuliahan. Studium General kali ini menghadirkan K.H. Ahmad Muwwafiq sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut. Beliau memberikan pesan kepada para mahasiswa baru untuk selalu berusaha belajar dengan pintar dan tidak perlu berkecil hati karena semua yang menentukan adalah Allah. Mahasiswa juga harus bisa memanfaatkan teknologi dengan baik, dengan positif, sehingga dapat memperoleh manfaatnya. Mahasiswa baru jangan hanya sekedar tahu namun juga memahami lingkungan sekitar agar dapat mewujudkan kerukunan dan toleransi.

Beliau juga menyampaikan “Kehidupan yang seperti ini sudah diprediksi oleh Allah, bagaimana persiapan umat terakhir, maka shalatlah, agar tidak lupa bahwa ada sesuatu yang harus dihadapi, yaitu Ka’bah, maka shalatlah” . Karena itulah Allah memberikan pembelajaran kepada umatnya untuk menghadap Ka’bah. “Mau ambil bekal silahkan,tidak silahkan, ambil bekal beloknya ke kanan, tidak ambil bekal beloknya ke kiri” ungkap beliau. Beliau juga menyampaikan bahwa kita di suruh untuk melakukan ibadah terberat, yaitu ibadah haji. Ibadah haji itu puncaknya di Arafah, menduduki sebuah tempat yang di situ terdapat tugu besar yang bernama Jabal Rahman, tanda yang diberikan Allah pertemuan Nabi Adam dengan Hawa, kita disuruh tengok, oh di sini kakek buyutku pertama kali bertemu sebelum beranak pinak, sebelum menjadi bangsa dan suku, kita ini bangsanya Indonesia, sukunya macam-macam, maka agar tidak lupa kita disuruh untuk menengok Jabal Rahman, maka jika kita melihat Jabal Rahman kita tahu bahwa kita semua bersaudara, Cina dari situ, Afrika darisitu,Indonesia darisitu, Eropa dari situ,semua dari situ, namun setelah pindah beubahlah wajah dan bentuknya”. Itulah kenapa setiap bangsa dan suku memiliki bentuk dan wajah yang berbeda-beda. Maka,sebagai generasi 4.0 haruslah lebih pandai dan pintar dalam memahami perbedaan, agar terciptanya kerukunan. (Lan/Humas Publikasi)

Editor: Kusnianto

Komentar ditutup.