Bg

Selenggarakan Seminar Nasional, HMJ AFI Angkat Tema Islam Progesif

Diterbitkan tanggal 17 September 2019

SINAR- Selasa (17/9) Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) IAIN Surakarta menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema, “Islam Progresif Memaknai Multireligius Di Era Post Truth”. Dalam sambutanya Wakil Dekan I FUD IAIN Surakarta Drs. H. Ahmad Hudaya, M.Ag menyampaikan pada dasarnya teks-teks wahyu memang sudah berhenti, namun pemahamannya harus terus menerus di gali. Islam harus aktual dalam ruang dan waktu, bisa akrab dengan realita, tidak melulu melangit, harus progesif melangkah kedepan dan tidak stagnan, ungkapnya. Semoga dengan seminar nasional ini bisa mengurai permasalahan-permasalahan yang terkait dan dapat mencerahkan semua peserta, tutup beliau dihadapan seluruh peserta yang didominasi mahasiswa aqidah filsafat islam tersebut.

Dalam seminar nasional kali ini hadir selaku pembicara adalah Muhammad Al Fayyadi, M. Phil seorang Master Filsafat lulusan Sorbonne University Francis yang juga redaktur islambergerak.com. Beliau didampingi oleh Wakil Rektor III IAIN Surakarta Dr. H. Syamsul Bakri, M.Ag yang juga pengasuh Ponpes Darul Afkar Institute, salah satu ponpes di Kabupaten Klaten yang concern pada masalah pemikiran islam dan tasawuf transformatif.

Pembicara pertama yang akrab disapa Gus Fayyad membedah satu persatu tema yang diangkat oleh panitia menjadi 3 yaitu islam progresif, multi religi, dan post truth. Satu persatu tema tersebut beliau kupas secara mendalam seperti Bagaimana orang beragama islam tidak kehilangan agamanya di tengah kemajemukan, keragaman Indonesia dan bagaimana menghadapi tantangan global yang hanya dikuasai segelintir orang dll.

Sementara itu pembicara selanjutnya Dr. H. Syamsul Bakri, M.Ag menyampaikan Islam diturunkan untuk perubahan masyarakat. Kajian islamic studies, tentu perlu mengacu pada prinsip ini. Setiap intelektual muslim dituntut untuk memahami pentingnya membumikan agama untuk transformasi masyarakat. Untuk itu maka kaum terdidik perlu memiliki bacaan yang kuat tentang tiga kitab, yakni kitab kuning, kitab putih dan kitab merah. Kitab kuning artinya buku-buku ilmu pengetahuan agama Islam yang disebut ‘ulumuddin. Ini yang harus dikuasai oleh cendekiawan muslim. Penguasaan atas kitab kuning menjadikan seseorang sebagai orang alim ulama, ungkapnya. Kemudian setelah kitab kuning adalah kitab putih tentang kajian kajian ilmiah telaah akademis yang objektif dan terakhir disempurnakan dengan kitab merah. Dengan pengkajian kitab merah diharapkan islam dapat dibumikan dalam pergerakan untuk perubahan masyarakat, pungkasnya. (Zat/ Humas dan Publikasi)

Komentar ditutup.