Bg

Dulu Jualan Timus, Kini Alumni Bidikmisi Itu Jadi Wisudawan Terbaik Tahun 2019

Diterbitkan tanggal 3 Oktober 2019

Ayu Irmasari Raharjanti

SINAR- Setiap manusia memiliki alur kehidupannya masing-masing, alur yang bercerita tentang tantangan untuk meningkatkan kualitas diri, tentang kehilangan untuk mendapatkan yang lebih baik atau tentang perjuangan untuk mempertahankan sesuatu. Begitulah kehidupan penuh kejutan dari Yang Maha Pencipta, Allah SWT, ungkap Ayu Irmasari Raharjanti megawali ceritanya. Peremnpuan berdarah Sragen itu menikmati indahnya perjuangan hidup semenjak kecil. Sedari kecil itu pula ia sering bertanya-tanya Apakah bisa? Apakah mampu? Aku mengejar semua mimpi dan cita-citaku? Segala lamunan dan rasa putus asa itu seketika sirna ketika melihat pemandangan akan perjuangan Simbah dan juga kedua orang tuanya. Karena itulah, saya selalu semangat belajar dan berkat doa Ibu dan Bapak saya selalu masuk tiga besar juara di kelas, ungkapnya.


Ayu Irmasari Raharjanti (Tengah) bersama sahabat-sahabatnya sesama wisudawan

Selain belajar, perempuan yang akrab dipanggil Irma oleh teman-temannya itu juga ikut membantu orangtua maupun simbahnya. Sejak kecil ia ikut berjualan simbahnya di pasar, hingga sore hari dan membantu menutup kios. Dan ketika SMA dia ikut menjajakan dagangan ibunya dengan berjualan timus di sekolah. Irma mengaku harus berjuang berangkat sekolah lebih pagi dari teman-temanya sehingga ia bisa menjajakan dagangan timusnya sebelum pelajaran sekolah dimulai, ia memercayai ungkapan pepatah jawa, “ora obah ora mamah” yang artinya kalau tidak bekerja maka tidak bisa makan. Sampai pada akhirnya ibu melarangnya ikut berjualan dan memintanya untuk fokus belajar saja, sudah mbak biar bapak dan ibu saja yang memikirkan, mbak dan adek semangat belajar saja apalagi sebentar lagi mau ujian nasional, ucap Irma menirukan pesan ibunya.

Menjelang kelulusan SMA, SMA Negeri 1 Sambungmacan tepatnya, pikirannya kembali dibuat bingung antara memilih bekerja atau lanjut kuliah. Membayangkan kuliah itu berarti menambah beban finansial bapak dan ibu, tetapi kalaupun bekerja, saya harus kerja apa? Hingga pada akhirnya ia mendapatkan titik terang dengan adanya beasiswa bidikmisi. Mulai dari SNMPTN dan SBMPTN ia mencoba peruntungannya agar dapat diterima di perguruan tinggi negeri. Namun ternyata ia gagal, sempat berhenti berharap namun bukan untuk menyerah, karena pengalaman hidup tak pernah mengajarkannya untuk menyerah.

Selanjutnya puteri dari bapak Slamet Raharjo mendapatkan informasi dari temannya tentang pendaftaran mahasiswa baru jalur mandiri di IAIN Surakarta. Karena waktu pendaftaran akan segera ditutup, Irma mulai mengurusi persyaratan umum dan beasiswa. Sampai malam terakhir pendaftaran, ia nekad datang ke sekolah sekitar jam 10 malam, ia kayuh sepeda dengan penuh harapan dan doa. Irma mengucapkan terimakasih kepada Pak Warsito bagian Tata Usaha, atas segala kebaikannya yang masih mau membantunya hingga larut malam.

Tidak ada hasil yang mengkhianati perjuangan, ia pun diterima sebagai mahasiswa Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Surakarta dan berhak atas beasiswa bidikmisi.

Selanjutnya, Irma mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantunya selama ini. Melalui program-program pengembangan bidikimisi ini ia mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman, sampai akhirnya ia bisa menyelesaikan studi perkuliahan bersama bidikmisi IAIN Surakarta.

Saya mendaftar dan tes jalur mandiri, kemudian Alhamdulillah saya diterima menjadi mahasiswa jurusan Perbankan Syariah IAIN surakarta dan mendapatkan beasiswa bidikmisi. IAIN Surakarta dan beasiswa bidikmisi membuka lebih lebar pandangan saya tentang perjuangan dan mensyukuri kehidupan.

Terakhir, Irma memberikan pesan, “tetaplah semangat, apapun yang terjadi kepada kita adalah ketetapan dari Allah SWT dan kita wajib mensyukuri-Nya. Doa dan restu dari orangtua dan keluarga merupakan bekal yang sangat penting bagi hidup. Saat putus asa menghantui langkah, ingatlah mereka yang menumpukkan sejuta harapan untuk kesuksesan kita, jadi jangan pernah menyerah.” tandasnya. (Zat/ Humas dan Publikasi).

Sumber: Ayu Irmasari Raharjanti (Seorang pemimpi dari perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur)

Komentar ditutup.