Bg

Ngalap Barokah Ahli Ilmu

Diterbitkan tanggal 27 November 2019
Oleh: Anisatul Afifah
(Mahasiswa IAIN Surakarta Jurusan Pendidikan Bahasa Arab)



Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati dan mengamalkan agama Islam di Indonesia yang terdapat lima elemen yaitu, kiai, santri, masjid, asrama dan pengajaran Islam klasik/kitab kuning (Dhofier, 1982). Kiai atau pengasuh pondok pesantren adalah tokoh yang mengajarkan ilmu agama sekaligus pendiri pesantren tersebut. Sedangkan, santri adalah seseorang yang menuntut ilmu agama disuatu pesantren. Seorang Kiai mengajarkan ilmu agama kepada santri-santri berdasarkan kitab yang telah ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama abad pertengahan. Biasanya para santri tinggal di asrama pondok tersebut. Tujuan santri tinggal di pondok pesantren adalah ingin mempelajari kitab-kitab secara mendalam kepada kiai. Ingin memperoleh pengalaman hidup di pesantren baik dalam sisi pembelajaran maupun kebersamaan dan ingin mengutamakan belajarnya di pesantren tanpa dicampur dengan kegiatan sehari-hari di rumah keluarganya.

Kitab klasik (kitab kuning) merupakan kitab yang ditulis dengan bahasa arab menggunakan harokat. Untuk dapat memahami dan membaca kitab kuning tersebut santri harus memahami ilmu-ilmu di antaranya, ilmu nahwu, shorof dan ilmu balaghoh (ilmu bahasa arab). Masjid merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan oleh pesantren karena digunakan untuk sholat berjama’ah, praktik sholat, khutbah Jumat, pengajaran kitab klasik dan lain sebagainya. Asrama adalah  tempat tinggal para santri yang merupakan ciri khas yang membedakan dengan lembaga pendidikan lainnya. Pesantren biasanya dipimpin oleh kyai tetapi,Kyai juga membutuhkan pengurus pondok yang biasa disebut sebagai tangan kanan kyai yang ditugaskan untuk menjalankan peraturan pondok  pesantren. Seperti, mengatur jadwal kebersihan, menertibkan sholat berjamaah, menggantikan ustaz atau ustazah yang berhalangan hadir, melatih rebana, dan lain sebagainya.

Penyelenggaraan pendidikan di pesantren salafi umumnya dengan metode sorogan. Metode ini biasanya bersifat individual, pembelajaran dasar dan paling sulit bagi santri. Sebab santri dituntut untuk sabar, rajin, taat, dan disiplin dalam menuntut ilmu. Santri seringkali tidak menyadari bahwa mereka mematangkan diri pada fase sorogan ini sebelum mengikuti pembelajaran selanjutnya. Beberapa pola umum pendidikan di pondok pesantren salaf adalah sebagai berikut;1) adanya hubungan akrab antara kiai dan santri. 2) tradisi sopan santun santri kepada kiai. 3) pola hidup sederhana. 4) tolong menolong sesama teman. 5) Mandiri. 6) Disiplin. 7) Berani menderita untuk mencapai tujuan. 8) Kehidupan tingkat religius yang tinggi. Di dalam dunia pesantren tidak lupa dari kegiatan ngalap berkah seperti contoh, minum dan minun sisa kiai, mencium tangan, menata sandal kiai dan lain sebagainya.

Hubungan antara kyai dan santri dalam pesantren ini terjalin dalam bingkai tradisi sami’na wa atha’na yaitu,suatu system yang mengharuskan bagi santri untuk mendengarkan dan menaati apa kata kyai. Dalam halnya,santri yang tinggal dipesantren disadari atau tidak telah menyadarkan dirinya pada”proses ketaatan ”kepada sang kyai untuk mendapatkan barokah. Barokah muncul salah satunya ada unsur karomah.karomah sendiri adalah pertolongan Allah yang diberikan kepada orang yang membutuhkannya. Konsep seperti ini dapat dipraktikkan dalam berbagai bentuk.seperti mencium tangan kiai disatu sisi menunjukan suatu penghormatan kepada kyai namun,disisi lain bertujuan untuk mendapatkan barokah dari beliau.Atau juga memberikan sedikit harta kepada kyai atau biasa disebut sowan kerumah kiai ”ngalap barokah doa kiai” kata orang Jawa yang baru keluar dari rumah kyai. Sikap santri ketika mendapatkan perintah atau larangan dari kiai, apabila mendapat perintah seorang santri segera melakukannya, apabila tidak segera melakukannya perintahnya takut ilmu yang didapatkan tidak barokah.

Salah satu hal unik yang menjadi ciri khas seorang santri sejak dulu adalah berebutan menata sandal kyainya. mengapa kebiasaan itu terjadi? 1) Karena sikap itu muncul lantaran hubungan kuat antara kyai dan santri.kuatnya hubungan ini merupakan faktor utama bagi santri untuk mendapatkan ilmu dari sang kyai. 2) Karena kuatnya keyakinan santri akan pentingnya mendapat barokah dari sang kyai.jadi,tradisi berebut menata sandal kyai adalah”ngalap barokah kyai dengan menata sandalnya”.Dengan kata ini,menata sandal kyai adalah bentuk kepatuhan yang tulus dan ketakdziman kepada guru atau kyai dan diyakini di dalamnya ada keberkahan tersendiri.karena “Ngalap berkah melalui sandal seorang wali lebih utama daripada dengan selainnya.Karena sandal digunakan untuk membawa jasad seutuhnya”.

Keberkahan tidak hanya didapatkan di pesantren. Akan tetapi, disemua tempat yang digunakan untuk tholabul ilmi. Misalnya, di sekolah formal sampai kejenjang  perguruan tinggi. Di lingkungan perguruan tinggi selain mengejar gelar sarjana mahasiswa juga mengharapkan keberkahan untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Perbedaan ketakziman antara mahasiswa dengan santri cukup berbeda, diantaranya takzim santri terhadap kiai dilihat dari hal  kecil tetapi jarang diketahui seperti, menundukan pandangan dan berdiam ditempat ketika bersimpangan dengan kiai, mencium tangan dengan cara membolak baliknya karena  tangan yang mereka cium adalah tangan yang selalu mendoakan dan selalu mengerjakan kebaikan dll.

Mahasiswa merupakan sumber daya manusia yang dipersiapkan untuk mengabdi dimasyarakat, dan mereka menuntut ilmu di Perguruan Tinggi yang bertujuan untuk mengembangakan dan menerapkan ilmu yang diperoleh di masyarakat.Ketika di bangku perkuliahan mahasiswa juga mempunyai wujud takzim kepada dosen.Berikut adalah bentuk takzim antara mahasiswa terhadap guru, diantaranya mengucapkan salam sebagai tanda saling menghormati ketika betemu di lingkungan kampus ataupun dimana saja ketika berjumpa dengan dosen.Memperhatikan dosen ketika pembelajaran berlangsung dan jangan terlalu banyak bertanya, maksutnya adalah seorang mahasiwa janganlah bertanya akan sesuatu sebelum berusaha memahami materi yang disampaikan oleh dosen. Jika belum jelas dengan materi yang disampaikan dosen barulah bertanya.

Terlebih seseorang yang menyandang dua status yaitu, mahasiswa sekaligus santri kemungkinan keberkahan yang akan didapat berlipat ganda. Harapannya dengan keberkahan ilmu yang didapat itu bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain sampai akhir hayat. Karena sesunggunya kebahagiaan di dunia maupun di akhirat itu harus berilmu. Maka dari itu, keberkahan sangat diharapkan oleh seseorang yang mengarungi lautan pengetahuan.

Penulis

Anisatul Afifah
Mahasiswa IAIN Surakarta Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Anisatul Afifah •TTL:Bojonegoro,07 Maret 2001 •Alamat:Asrama 3 Darussalam •Mahasiswa IAIN Surakarta Jurusan Pendidikan Bahasa Arab 1C/2019

Komentar ditutup.