Bg

AKTIVISME ROHIS SMA SEDERAJAT DI SURAKARTA

Diterbitkan tanggal 26 November 2019
Oleh:
Arian Agung Prasetiyawan
(Mahasiswa IAIN Surakarta)

Tulisan ini pernah diseminarkan di Borneo Undergraduate Academic Forum (BUAF) 2019 )

Abstract

Indonesia in 2030 will experience a potential demographic bonus as one of the national progress instruments. The main actors of the time will be performed by the average millennial generation who they are sitting in high school and college in the early semester or in adolescence. To make it real there are certainly moral and mental pastorals built through religion. Because the psychoanalysis theory says adolescence is a period of identification with doubts about the concept that has been accepted during children, including religious beliefs. If the portion of religious learning is formally limited, the outside portion is required through Rohis. But if viewed at this time negative stigma emerged to Rohis. Therefore, in this study we tried to see the activism undertaken by Rohis in the millennial Era by taking informant from three schools with different clumps namely MAN, SMA, and SMK in Surakarta. Research methods are conducted with observations, in-depth interviews and library studies to enrich information. The results of this study expose the reality of Rohis problematics; Used as a space of political contestation and Islamic ideology leading to religious radicalism, textual education patterns that make tekstualitas religious, low-spirited spirit and lack of harmonized functional relationship between Rohis With the school. The problematics are in response to his activism in the field of Da’wah, social, caderisation, and entrepreneurship. Also using the strengthening approach of thinking methods that are rational and scientific in the Organization, also strengthening through the culture of literacy.

Keywords: Activism, Milenial, Modernization, Problematics, Rohis

Abstrak

Indonesia  tahun 2030 akan  mengalami bonus demografi yang berpotensi sebagai salah satu instrumen kemajuan nasional. Pemeran utama pada masa itu akan dilakukan oleh generasi milenial yang rata-rata mereka sedang duduk di bangku SMA serta Perguruan tinggi di semester awal atau sedang dalam masa remaja. Untuk menjadikan hal itu nyata tentunya ada penggembelengan moral dan mental yang dibangun melalui agama. Sebab teori psikoanalisis mengatakan masa remaja merupakan masa pencarian identitas dengan keraguan terhadap konsep yang telah diterima pada masa anak-anak, termasuk keyakinan agama. Jika dilihat porsi pembelajaran agama secara formal terbatas maka diperlukan porsi diluar yaitu melalui Rohis. Tetapi jika dilihat saat ini stigma negatif muncul kepada Rohis. Oleh sebab itu dalam penelitian ini kami mencoba melihat aktivisme yang dilakukan Rohis di Era milenial dengan mengambil informan dari tiga sekolah dengan rumpun yang berbeda yaitu MAN, SMA, dan SMK di Surakarta. Metode penelitian dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam serta studi pustaka untuk memperkaya informasi. Hasil penelitian ini memaparkan realitas problematika dihadapi  Rohis; digunakan sebagai ruang kontestasi politik dan ideologi Islam yang mengarah pada radikalisme beragama, pola pendidikan tekstual yang membuat tekstualitas beragama, rendahnya semangat berorganisasi dan kurang harmonisnya hubungan fungsional antara Rohis dengan sekolah. Problematika tersebut di respon dengan adanya aktivisme rohis di bidang dakwah, sosial, kaderisasi, dan kewirausahaan. Juga menggunakan pendekatan penguatan metode berfikir yang rasional serta ilmiah dalam organisasi, juga penguatan melalui budaya literasi.

Kata kunci: Aktivisme, Milenial, Modernisasi, Problematika, Rohis

Pendahuluan

Generasi muda yang hidup pada masa ini disebut dengan generasi milenial atau generasi langgas. Tantangan dan karakter merupakan indikator pembeda dari generasi ini. Mereka adalah generasi yang bebas terhubung dengan dimensi konektivitas yang luas, bebas berkreasi, lebih percaya diri, individualisme tinggi dan menginginkan hidup dengan sesuatu yang instan serta digital. Jumlah mereka di tahun 2015 sebanyak 84 juta jiwa, dimana 33% dari total penduduk Indonesia yang terhitung 255 juta jiwa. Generasi ini yang berumur 16-36 tahun memiliki prosentasi 50% lebih besar dari penduduk usia produktif 37-64 tahun. Generasi yang sedang menempuh pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas dan Sederajat dapat digolongkan sebagai generasi milenial, hal itu dikarenakan rata-rata umur mereka berkisar antara 16-18 tahun.[1]

Masa SMA merupakan masa peralihan dari fase remaja menuju fase dewasa. Masa remaja (adolescence) ditandai dengan adanya kecenderungan kebingungan identitas (identity confusion). Dalam kondisi ini psikis atau keadaan jiwa dari siswa SMA belum sepenuhnya stabil, keaadan tersebut mengakibatkan mudahnya masuk bergbagai paham yang menimbulkan tindakan yang menyeleweng.[2]

Dinamika kondisi dan tantangan bagi siswa SMA di Era Milenial sangat kompleks. Dari karakteristik yang menginginkan serba instan dan ketergantungan terhadap internet, memberikan pengaruh terhadap tingkah laku siswa. Realitasnya, marak berita di televisi, radio, koran dan berita online berupa seks bebas, narkoba, tawuran yang menjerat siswa SMA. Realitas tersebut merupakan fakta dari krisis moral generasi milenial. Krisis moral dapat terjadi disebabkan lunturnya ekspresi terhadap nilai-nilai keberagamaan dalam diri masyarakat.[3]

Sebaliknya yang tidak kalah menarik adalah fenomena kesalah pemahaman terhadap nilai-nilai keberagamaan. Remaja merupakan individu yang aktif dan kreatif namun juga rentan terhadap berbagai macam nilai-nilai keagamaan yang bisa saja mengandung unsur radikalisme.[4]  Radikalisme yang menggerogoti sebagian umat Islam merupakan permasalahan serius bagi generasi milenial. Maraknya terorisme di kalangan generasi milenial seakan menjadi sebuah potensi destruktif dalam memajukan sebuah bangsa. Sebagai contoh tertangkapnya 6 siswa dan alumni dari sebuah SMK Negeri di klaten pada tahun 2011 karena ikut dalam jaringan teroris.[5]

Di lingkungan SMA terdapat banyak  unit kegiatan pelajar yang mewadahi pengembangan minat dan bakat yang berfungsi sebagai tempat aktualisasi mereka. Menariknya di unit kegiatan pelajar terdapat organisasi intra sekolah yang fokus dalam bidang keagamaan. Unit kegiatan pelajar yang berbasis keagamaan itu biasa  dikenal sebagai Kerohanian Islam (Rohis). Alasan utama mengapa sekolah umum membentuk unit kerohanian Islam adalah; sebagai sebuah alternatif untuk pengembangan agama diluar pelajaran agama yang sangat minim di sekolah. Sekolah umum hanya memberikan porsi mata pelajaran agama berkisar 2-3 jam dalam sepekan.[6] Oleh karena itu, dengan adanya Rohis, diharapkan mampu menjadi wadah untuk menambah pengetahuan agama, dan mengembangkan diri berdasarkan konsep, serta nilai-nilai ke-Islaman di luar kegiatan akademik sekolah.

Namun, Rohis sendiri mengalami problematika dalam proses menjalankan fungsi organisasi yang bergelut pada bidang dakwah. Wajah agama yang seringkali dihadapkan terhadap isu keberagamaan dalam masyarakat berkutat dengan konflik dan radikalisme, juga dihadapkan dengan tantangan modernitas dalam kehidupan umat manusia.[7] Organisasi yang seharusnya, sebagai wadah untuk mengembangkan motivasi dan pembenahan diri dalam rangka internalisasi nilai-nilai akhlakul karimah, justru kurang diminati oleh sebagian besar siswa SMA yang beragama muslim.

Nilai penting dan prospektus dakwah dipandang sebagai proses pendidikan yang baik dan benar-benar harus mengacu pada nilai-nilai Islam yang diterapkan sedini mungkin kepada anak-anak. Ketika proses tersebut dapat berjalan dengan baik, kita akan melihat munculnya generasi muda yang memiliki komitmen yang kuat.[8]

Penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan, karena tantangan Rohis bagi siswa SMA sederajat di Era Milenial yang kompleks ketika membahas tentang problematika Rohis menghadapi modernitas. Bertolak dari problematika tersebut menimbulkan sebuah pertanyaan adakah pengembangan aktivitas Rohis dalam menghadapi tantangan modernitas ?. Penelitian ini dilakukan di  Surakarta karena kondisi kehidupan bermasyarakat yang multikultural dengan berbagai corak keberagamaan yang tumbuh dan berkembang, secara historis wilayah ini dikenal sebagai pusat peradaban di Tanah Jawa.  Berdasarkan latar belakang di atas maka dari itu penulis mengangkat judul Aktivisme Rohis SMA Sederajat di Surakarta.

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan suatu wujud dari kegelisahan yang dialami oleh penulis. Di awali dari pengamatan maraknya kasus kriminalitas yang menjerat siswa SMA, dan juga adanya fenomena Islamphobia karena maraknya kasus terorisme yang menjadikan ke acuhan sebagian besar siswa SMA terhadap organisasi berlabel dakwah seperti Rohis. Langkah awal yang dilakukan peneliti adalah mengumpulkan data-data terkait penelitian sebelumnya tentang Rohis. Objek yang akan di ambil peneliti adalah organisasi Rohis yang ada di SMA sederajat Negeri maupun Swasta yang memiliki Identitas religius dan umum.

Penelitian ini menggunakan pendakatan kualitatif dengan menggali macam-macam tantangan modernisasi yang dihadapi Rohis. Selain itu penelitian ini juga mengeksplorasi pengembangan aktivitas Rohis dalam menghadapi tantangan modernisasi.

Pengambilan sampel bagi metode kualitatif sifatnya purposive artinya sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian, sehingga syarat utamanya adalah kredibilitas dan kekayaan informasi.[9] Maka, melalui metode tersebut peneliti akan mengumpulkan data dengan melakukan wawancara secara mendalam di Rohis SMA sederajat Negeri maupun Swasta yang memiliki identitas religius dan umum di Surakarta. Pihak informan di ambil dari internal hirearki organisasi Rohis, yaitu; pembina, pengurus, dan anggota Rohis.

Teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, observasi, wawancara mendalam,  dan dokumentasi. Studi pustaka diambil dari beberapa penelitian terdahulu dan buku yang relevan. Tahap selanjutnya melakukan pengumpulan data  observasi berupa interaksi dalam organisasi atau pengalaman anggota organisasi.[10] Rencana observasi akan dilakukan ke SMA sederajat Negeri maupun Swasta yang memiliki identitas religius dan umum di Surakarta yaitu: MAN 2 Surakarta, SMAN 4 Surakarta, SMKN 2 Surakarta, Penelitian ini dalam analisis data menggunakan analisis deskriptif. Data yang diperoleh akan di analisis melalui tiga alur kegiatan, yaitu; reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Pengolahan data dilakukan oleh peneliti sendiri, dengan melakukan pengumpulan data yang diklasifikasikan secara sistematis. Mengingat kurangnya data yang diperoleh melalui observasi, maka penelitian ini juga melakukan wawancara secara mendalam dan dokumentasi.

Tahap penelitian yang dilakukan terdiri dari tiga tahap; tahap pengamatan, tahap pengumpulan data dan tahap analisis data serta laporan. Tahap pengamatan merupakan kegiatan yang dilakukan peneliti sejak februari sampai april 2018. Dari pengamatan awal ini tergambar dinamika kondisi dan tantangan bagi siswa SMA menghadapi tantangan modernisasi.

Tahap berikutnya, tahap pengumpulan data. Pada tahap ini peneliti melakukan observasi, wawancara secara mendalam dan pengumpulan dokumen tentang pengembangan aktivitas Rohis dalam menghadapi tantangan modernisasi.

Tahap terakhir adalah analisis data serta laporan. Setelah melakukan pengamatan dan pengumpulan data, peneliti melakukan analisis data serta membuat laporan.

Aktivisme Rohis Dalam Menghadapi Tantangan Modernisasi

Peranan Rohis dalam pembentukan perilaku siswa memiliki nilai yang besar, dari segi kuantitas rohis mempunyai peran yang besar dalam pembentukan perilaku keberagamaan siswa, hal inilah yang menarik bagaimana agar mampu mengerahkan dan mengarahkan segenap potensi yang ada. Terdapat tiga tipologi implementasi bentuk menghadapi problematika dan tantangan generasi muda terhadap modernisasi. Juga memiliki bentuk gerakan yang berbeda pula di setiap rumpun sekolah.

Di sekolah kejuruan lebih cenderung mengalami problematika tekstualitas beragama dan didorong oleh budaya pendidikan yang praktis. Informan dari Rohis SMK N 2 Surakarta menyatakan bahwa masalah yang dihadapi adalah bagaimana siswa dapat memiliki pola berfikir yang logis dan terbuka, dalam Rohis mayoritas kehidupan beragamaannya masih tradisional dan terkungkung oleh paham yang kurang mengarah pada kemajuan. Hal tersebut tercermin ketika ketua rohis melakukan rapat dengan anggota menggunakan pendekatan berfikir logis, hal-hal yang memiliki nilai ketakhayulan beragama diminimalisir. Sasaran siswa yang mengikuti kajian juga masih dalam lingkungan internal siswa, ini disebabkan oleh sumber daya manusia yang memiliki skill dan pengetahuan keagamaan yang lebih rasional terbatas. Namun sasaran akan meluas ke siswa secara menyeluruh ketika kondisi Rohis sudah memiliki sumber daya manusia dengan cara berfikir rasional. Ia juga menyatakan bahwa hal yang dirubah lebih berprioritas pada metode berfikir, karena dengan kondisi berfikir siswa yang praktis sulit untuk diajak berfikir terbuka dalam memecahkan persoalan riil di kehidupan.

Aktivitas yang dikembangkan oleh rohis kejuruan terbagi kedalam beberapa gerakan : pertama, gerakan dakwah dan kajian melalui kegiatan ta’lim pagi dan sore yang diadakan setiap harinya, juga diadakan kajian rohis yang dilakukan setiap minggunya. Kajian keIslaman juga dilakukan melaui media sosial seperti Instagram. Kedua, gerakan umum keorganisasian seperti rapat kepengurusan, musyawarah besar yang menjadi salah satu variabel bahwa gerakan dakwahnya terorganisir. Ketiga, gerakan kewirausahaan ternak lele yang pernah berjalan hingga akhir tahun 2017, hal ini mencerminkan adanya gerakan untuk membentuk pribadi siswa yang memiliki kekuatan ekonomi dan mental enterprenurship sejak SMK.

Dalam rumpun SMA ditemukan adanya perbedaan signifikan dibanding dengan rumpun SMK dan MAN. Di rohis SMA N 4 Surakarta problematika yang muncul di rumpun SMA adalah penggunaan permainan berbasis online yang mengganggu proses transmisi keberagamaan rohis, seperti ketika kajian mentoring banyak siswa yang tidak fokus dan bermain game online. Mentoring adalah kegiatan yang diselenggarakan bersama oleh rohis melalui permintaan oleh pihak sekolah kepada LDK yang menyediakan para relawan untuk mengelola mentoring keIslaman di sekolah-sekolah.[11] Namun, pengggunaan teknologi sebagai salah satu ciri khas generasi milenial memiliki nilai positif yang besar seperti ketika diaplikasikan dalam gerakan dakwah melalui instagram yang lebih efektif dan menarik untuk diihat dan dibaca oleh netizen khususnya muda muslim milenial. Problematika lain yang dihadapi rohis milenial adalah maraknya berita hoax melalui media sosial, banyak siswa yang terjebak kedalam ketidakmauan untuk melakukan pengecekan kebenaran berita. Terlebih banyak sekali bentuk pesan berantai hoax yang berisi kajian keIslaman yang tidak sedikit menggunakan al-qur’an dan hadist sebagai justifikator kebenaran isi pesan tersebut.

Aktivisme Rohis SMA dengan rumpun umum terbagi kedalam beberapa gerakan yaitu: pertama, gerakan dakwah Islam-kultural melalui kegiatan mentoring yang telah ada sejak lama, kajian ini sekarang masih ada dengan diisi dengan materi-materi keIslaman dan diisi oleh mahasiswa atau ustad dari luar sekolah. Kedua, gerakan dakwah-milenial melalui dakwah media sosial yaitu instagram, informan kami yang sedang duduk di kelas 10 SMA saat itu menyampaikan bahwa penggunaan media sosial lebih efektif untuk gerak dakwah namun respon terhadap dakwahnya masih kurang. Ketiga, gerakan Islam-literatif melalui bedah buku keIslaman oleh seorang ustad ketika hari libur dan diakadakan oleh rohis. Peningkatan literasi juga terlihat ketika rekrutmen rohis, diawalnya mereka diminta untuk menulis sebanyak-banyaknya lalu memberikan pendapat atas tulisna yang ia tulis.

Rohis MAN 2 Surakarta sebagai informan yang berlatar belakang religius terjadi aktivitas yang beragam, meskipun demikian dominan terhadap praktik ibadah yang disesuaikan dengan zaman milenial. Aktivitas Rohis MAN ini terbagi menjadi 4 gerakan; pertama, gerakan dakwah yang dilakukan baik untuk internal sekolah seperti: Kuliah tujuh menit (kultum) yang dilakukan disela-sela adzan dan iqamah shalat Dzuhur,Kajian kemuslimahan saat khutbah jumat dari siswi untuk siswi, Presensi Haid, maupun eksternal sekolah; lomba keagamaan dan kajian akbar untuk siswa SMP/MTs Sederajat di Surakarta, dalam gerakan dakwah Rohis MAN sudah mampu memanfaatkan gerak dakwah melalui media sosial, ketua bidang dakwah dalam wawancara menuturkan jika Rohis MAN 2 Surakarta aktiv dalam Instagram dan facebook dengan mengunggah kegiatan dakwah dan tausiyah berupa audio, video, visual di akun media sosialnya “@rohismandaska”. Keduagerakan kaderisasi merupakan proses perekrutan anggota dan pengurus baru dan proses penggembelengan mental serta penambahan wawasan keIslaman, kegiatanya; Tafakur alam, Mabit Malam Ramadhan, reorganisasi. Ketigagerakan sosial karena letaknya yang berdampingan langsung dengan salah satu dari sekian ikon kota Surakarta yaitu Taman Sriwedari menimbulkan setiap harinya penglihatannya tak luput dari permasalahan sosial, hingga hal tersebut yang memunculkan gerakan sosial  seperti bakti sosial, bagi-bagi takjil di bulan Ramadhan. Keempatgerakan intelektualitas dan kreativitas karena kesadarannya sebagai organisasi yang tidak sembarangan di MAN 2, Rohis mencoba untuk meningkatkan intelektualitas dan eksistensi dengan menciptakan buletin yang di beri nama “Al- Uswah Buletin Para Remaja Perindu Surga” yang di produksi setiap sebulan sekali dengan tema mengikuti isu-isu terkini.

Tak dapat dipungkiri meskipun sebagai organisasi keIslaman dan bergerak dibawah naungan lembaga keIslaman Rohis MAN 2 Surakarta tak luput juga dari problematika. Dari hasil wawancara dengan anggota serta pengurus Rohis MAN 2 Surakarta dapat ditemukan 2 problematika Rohis MAN 2 Surakarta yaitu; problematika Internal merupakan problematika yang dirasakan anggota Rohis ini meliputi kurangnya ghairah  berorganisasi dari diri anggota Rohis yang dilatarbelakangi oleh padatnya kegiatan belajar mengajar dan karakterisktik generasi milenial yang suka praktis dan berorganisasi mengikuti mood, problematika eksternaladanya perbedaan pendapat dari masing-masing anggota maupun pengurus Rohis, selain itu adanya disintegrasi antara pengurus dan anggota Rohis dengan Pembina Rohis yang disinyalir tidak sepaham dari segi pemikirannya.

Penutup

Berdasarkan hasil analisa data dan penelitian tentang problematika rohis milenial menghadapi modernisasi adalah perubahan pola perilaku yang cenderung praktis, karena kebutuhan informasi yang sangat mudah dan penanganan yang kurang sesuai akan menimbulkan pola perilaku dan berfikir yang praktis. Hal ini menjadi masalah karena akan menghambat laju perkembangan organisasi, pemecahan masalah yang tidak dipahami secara menyeluruh dan adanya perbedaan pola berfikir antara generasi milenial dan generasi sebelumnya dapat menimbulkan disintegrasi antara pengurus dan pembina.

Aktivisme Rohis milenial di tiga sekolah terdapat tiga tipologi : pertama, aktivitas yang ditonjolkan lewat segi pemikiran yang lebih ilmiah dan rasional dalam beragama. Kedua, aktivitas keIslaman yang kultural dan sudah kuat untuk diselenggarakan seperti kegiatan mentoring. Ketiga, aktivitas milenial dalam beragama seperti penggunaan materi yang lebih dekat dengan kondisi aktual era milenial yang dicerminkan oleh Rohis MAN 2 Surakarta. Tiga tipologi tersebut eksis dan berkembang sesuai kultur kependidikan didalamnya. Hal ini menyangkut pemecahan maslah yang lebih sesuai dengan kondisi siswa disetiap rumpun.

Daftar Pustaka

Fachri Aidulsyah, Nurrahmad Wibisono, Yustia Atsanatrilova Adi. “Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 2 No.2, November 2013” 2, no. 2 (2013).

Hasan, Noorhadi. Literatur KeIslaman Generasi Milenial, Transmisi, Aproproasi Dan Kontestasi. Yogyakarta: Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Press, 2018.

J.R RACO. Metode Penelitian Kualitatif Jenis, Karakteristi, Dan Keunggulannya. Jakarta: PT Grasindo, 2010.

Purwadi. “PROSES PEMBENTUKAN IDENTITAS DIRI REMAJA.” Indonesian Psychologycal 1, no. 1 (2004): 43–52. http://journal.uad.ac.id/index.php/HUMANITAS.

Ridwan, M K, and Muhammad Misbah. “Agama ; Antara Cita Dan Kritik” 4 (2016): 154–170.

ROHMANTO, BOY. “Enam Terduga Teroris Dari SMKN 2 Klaten, Guru-Guru Pun Shock.” Last modified 2011. https://www.jpnn.com/news/enam-terduga-teroris-dari-smkn-2-klaten-guru-guru-pun-shock.

Sebastian, Yoris. Generasi Langgas. Jakarta: Gagasmedia, 2016.

Sukardi, Akhmad. “METODE DAKWAH DALAM MENGATASI PROBLEMATIKA REMAJA” 9, no. 1 (2016).


[1] Yoris Sebastian, Generasi Langgas (Jakarta: Gagasmedia, 2016).

[2] Yustia Atsanatrilova Adi Fachri Aidulsyah, Nurrahmad Wibisono, “Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 2 No.2, November 2013” 2, no. 2 (2013).

[3] Ibid.

[4] Purwadi, “PROSES PEMBENTUKAN IDENTITAS DIRI REMAJA,” Indonesian Psychologycal 1, no. 1 (2004): 43–52, http://journal.uad.ac.id/index.php/HUMANITAS.

[5] BOY ROHMANTO, “Enam Terduga Teroris Dari SMKN 2 Klaten, Guru-Guru Pun Shock,” last modified 2011, https://www.jpnn.com/news/enam-terduga-teroris-dari-smkn-2-klaten-guru-guru-pun-shock.

[6] Fachri Aidulsyah, Nurrahmad Wibisono, “Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 2 No.2, November 2013.”

[7] M K Ridwan and Muhammad Misbah, “Agama ; Antara Cita Dan Kritik” 4 (2016): 154–170.

[8] Akhmad Sukardi, “METODE DAKWAH DALAM MENGATASI PROBLEMATIKA REMAJA” 9, no. 1 (2016).

[9] J.R RACO, Metode Penelitian Kualitatif Jenis, Karakteristi, Dan Keunggulannya (Jakarta: PT Grasindo, 2010).

[10] Ibid.

[11] Noorhadi Hasan, Literatur KeIslaman Generasi Milenial, Transmisi, Aproproasi Dan Kontestasi (Yogyakarta: Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Press, 2018).

Penulis

Arian Agung Prasetiyawan
Mahasiswa IAIN Surakarta (Juara Borneo Undergraduate Academic Forum (BUAF) 2019)

aagungprasetiyawan@gmail.com

Komentar ditutup.