Bg

Mahasiswa KPI Gelar Acara Sarasehan Konsentrasi dan Diskusi Angkatan

Diterbitkan tanggal 28 November 2019

SINAR- Bertempat di aula lantai 4 FAB Kamis (28/11), mahasiswa KPI angkatan 2018 mengadakan acara Sarasehan Konsentrasi dan Diskusi Angkatan. Acara tersebut dimaksudkan sebagai persiapan sebelum mereka memilih konsentrasi (jurnalistik, broadcast dan public relations) pada akhir semester nanti.

Acara tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Fathan M. Si (dosen KPI), Rhesa Zuhriya B.P M. I.Kom (dosen KPI) dan Muhammad Shodiq (Simpang Lima TV, Semarang). Sebelum sesi diskusi, diawali dengan sambutan ketua panitia (Ngafif Ma’ruf), ketua angkatan (Panji Putra Ariyanto), ketua prodi KPI (Agus Sriyanto, M.Si) dan dekan FUD (Dr. Islah).

Sarasehan dan diskusi yang dihadiri sekitar 150 mahasiswa tersebut berlangsung hangat. Pada pemaparannya Rhesa Zuhriya B.P M. I.Kom menyampaikan pentingnya mahasiswa memahami konsentrasi yang akan mereka ambil. Ia mencotohkan hari ini seorang praktiksi PR (public relation) tidak hanya cukup bermodalkan penampilan goodlooking, paras cantik/tampan, atau supel belaka. Seorang praktiksi PR harus cerdas.

“Maka seorang PR juga harus mengerti tentang dunia tulis menulis. Read, read, read! Write, write, write! PR juga mesti paham soal broadcasting, marketing, protokoler, dll. Harus multitalent.” tutur Rhesa.

Pada kesempatan itu Rhesa juga menyampaikan jika konsentrasi yang diambil nantinya juga berkaitan dengan tempat magang, tempat KKL, dan tema skripsi. Jadi, hendaknya mahasiswa tidak salah pilih konsentrasi.

Tiga pilihan konsentrasi, menurut Fathan M. Si, disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Diharapkan mahasiswa KPI nanti dapat bersaing di dunia kerja setalah lulus dari IAIN Surakarta. Fathan berpesan agar mahasiswa KPI, apapun konsentrasi yang diambil, menjadi mahasiswa-mahasiswa yang tangguh. Lebih-lebih di era yang serba tidak pasti sekarang ini.

Muhammad Shodiq narasumber dari Simpang Lima TV menuturkan di masa-masa yang akan datang tantangan media menjadi semakin berat. Ia membuat permisalan: di masa lalu, untuk membuat stasiun tivi lokal tingkat provinsi dibutuhkan 65 orang pekerja, sedangkan sekarang cukup 25 orang saja. Artinya skill menjadi hal terpenting.

Shodiq berpesan, mahasiswa yang ingin kerja di televisi tak cukup hanya memiliki satu skill saja. “Hanya bisa ambil gambar saja tidak cukup, harus bisa editing. Lebih bagus kalau bisa script writing.”

Ia menyarankan jurusan KPI memiliki mata kuliah tentang content creator dan bisnisnya (monetasi). Mengingat perkembangan zaman yang semakin pesat. Ia memprediksi sejumlah televisi yang menyasar penonton di perkotaan akan gulung tikar, atau minimal memecat banyak karyawannya. Sebab orang kota sudah tidak menonton televisi lagi, melainkan menonton Netflix dan Youtube. Mahasiswa diminta untuk membayangkan masa depan dunia media dan menyiapkan antisipasinya.

“Bagi saya skill terbaik adalah kemampuan beradaptasi. Seperti apapun zaman berubah, kalau kita bisa beradaptasi kita tidak akan tumbang oleh perubahan.” pungkas Shodiq. (Gie/humas Publikasi)

Sumber: AZZ

Komentar ditutup.