Bg

Nata de Coco Ada Plastiknya?

Diterbitkan tanggal 19 Desember 2019

Oleh: Ilzamha HR
(Food Scientist Centre of Halal Research_IAIN Surakarta)

Baru-baru ini beredar luas video tentang seorang wanita yang mendapat informasi dari suatu group whatsapp bahwa di dalam nata de coco terdapat tissue, kemudia Ia pun mencoba sendiri di dapur rumah nya dengan menggunakan nata de coco merek lain dari yang diinformasikan di group namun sama-sama produk dari Indonesia, lokasi uji coba produk nata de coco tersebut sepertinya berlokasi di luar Indonesia, dilihat dari label harga yang menggunakan mata uang dolar. Selanjutnya wanita tersebut mencoba mengepres nata de coco dengan menggunakan tissue, lalu menurutnya produk akhir dari pengepresan air nata de coco tersebut adalah lembaran tipis mirip plastik yang mengkilap, dan tidak dapat disobek. Wanita tersebut pun berasumsi bahwa benda yang mirip plastik tersebutlah yangsering menyebabkan adanya penyakit gestrik atau sakit perut pada orang yang memakannya. Apakah pernyataan tersebut benar?

Mari kita lihat perlahan produk yang dipermasalahkan tersebut. Nata de coco adalah metabolit atau hasil fermentasi dari bakteri penghasil selulosa bernama Acetobacter xylinum, bakteri ini menggunakan sumber makanan berupa glukosa dari media tempat ia hidup menjadi lembaran selulosa tipis yang dinamakan nata. Penamaan nata ini bergantung pada media tempat hidupnya, jika media nya berasal dari air kelapa, maka disebut nata de coco, jika berasal dari lidah buaya maka disebut nata de aloe, jika dari nanas sebutannya adalah nata de pinna, bahkan ada yang meracik media hidup bakteri ini berbasis air yang ditambah mineral dan gula, maka nata yang dihasilkan bernama nata de aqua. Nata de Coco adalah makanan yang awalnya diproduksi di Filipina, namun karena rasanya yang enak sekaligus menyehatkan nata de coco kemudian dikembangkan di negara lain yang memiliki sumber daya alam kelapa yang relatif banyak seperti Indonesia.

Acetobacter xylinum adalah bakteri yang baik, artinya bakteri ini dapat menguntungkan manusia. Disebut oleh GAPNI (Gabungan Pengusa Nata de coco Indonesia) bakteri ini sangat banyak digunakan terutama di Industri pemroduksi selulosa, karena sumber selulosa yang dibutuhkan saat ini sebagian besar adalah yang murni, sedangkan selulosa dari tumbuhan biasanya masih tercampur dengan senyawa lain seperti lignin, hemiselulosa dan sebagainya. Selulosa adalah karbohidrat kompleks (polisakarida) yang strukturnya terdiri dari karbon, hydrogen dan oksigen yang diperlukan oleh makhluk hidup. Sifat selulosa ini memerangkap air, sehingga terkadang bentuk yang dihasilkan mirip dengan gel yang kental dan berair. Jika air ini dihilangkan dari ikatan selulosa nya, maka yang tertinggal adalah lembaran tipis selulosa yang menyerupai tissue atau plastik, tentu saja karena ikatannya yang kuat, lembaran ini sulit untuk disobek dengan tangan kosong ini mirip dengan upaya kita menyobek plastik yang terbuat dari ketela yang akhir-akhir ini marak dikembangkan karena ramah lingkungan dan mudah terurai.

Lalu apa pentingnya selulosa bagi tubuh kita?. Selulosa yang dihasilkan oleh Acetobacter xylinum pada pembuatan nata de coco telah banyak diteliti manfaatnya bagi tubuh manusia, terutama bagi kesehatan saluran cerna manusia. Seseorang yang terkena konstipasi disarankan mengkonsumsi nata de coco, karena sifat selulosa nya yang mengikat air, sehingga meningkatkan bulk density dari feses, sehingga seseorang akan cenderung merasa mulas dan segera mengeluarkan feses yang menjadi sebab konstipasi tersebut. Mungkin sakit perut inilah yang dirasakan oleh wanita dalam video percobaan plastik dalam nata de coco, padahal hal itu adalah reaksi alamiah bagi tubuh ketika akan mengeluarkan kotorannya. Pencernaan yang lancar dapat menurunkan resiko seseorang terkena penyakit kanker usus, karena kanker usus disebabkan terlalu lama nya feses berada dalam usus yang menyebabkan bakteri jahat berkembang di dalamnya, dan meningkatkan potensi terjadinya kanker tersebut. Beruntungalah sebagai orang Indonesia yang sudah sangat sering menggunakan olahan nata de coco ini sebagai hidangan penutup (dessert) karena nata de coco membantu Kita untuk tetap sehat.

Kemudian apakah Nata de coco thoyib? Dilihat dari kacamata keislaman, hukum awal dari makanan adalah mubah terkecuali jika ada larangan haram yang jelas serta jika dikonsumsi maka tidak akan merugikan tubuh seseorang tersebut. Maka nata de coco dapat menjadi tidak thoyyib apabila jumlah yang dikonsumsi terlalu banyak, karena sifat selulosa yang tidak dapat dicerna tubuh, namun dapat dicerna oleh bakteri usus kita, namun dalam jumlah sedikit. Oleh karenanya, mengkonsumsi nata de coco atau nata lainnya dapat menimbulkan diare dan efek samping lainnya pada tubuh seseorang. Seberapa banyak konsumsi nata de coco yang diperbolehkan atau masuk dalam kategori masih thoyyib? Hal itu tergantung pada kemampuan tubuh masing-masing individu. Penempatan olahan nata de coco pada hidangan penutup adalah hal yang tepat, karena porsinya yang tidak terlalu banyak. Hal yang paling baik adalah makan sesuai sunnah Nabi Muhammad SAW, yaitu makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang.

Penulis

Ilzamha HR
Food Scientist Centre of Halal Research_IAIN Surakarta

Komentar ditutup.