Bg

Pendidikan Islam dan Ideologi Pendidikan Kritis

Diterbitkan tanggal 13 Mei 2016

Purwanto-ed

Dr. Purwanto, M.Pd
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Abstract

Critical education is considered as a criticism (antithesis) as well as solutions to capitalistic education. Capitalism is social, political, and economical system in which its ways of controlling is based on the market mechanism, which is free from the government intervention. As its part of in that system, education is also influenced so much by the dominant social, political and economic system that the system result in capitalistic education. Capitalistic education is characterized by knowledge as the product of school, elitist, knowledge as a commodity, gave birth to the human “owner” of knowledge, siding with the power, increasing poverty and as a means of making money. The relationship of teachers and students is relationships in business transactions. The problem is, is there any basis for critical education in Islamic education? Islamic Education, have a spirit of critical thinking analytically. Education of Prophet Abraham to Ishmael, fandzur madza tara and necessity of tabayyun or test the truth of the information and reality in Surat al-Hujurat (49): 6 is among the critical foundation of Islamic education. Tabayyun attitude is the fruit of awareness of the critical in Islamic education. In this spirit, critical of Islamic education has existed long before the emergence of critical ideology in education.

Key words : capitalistic education, critical education, Islamic critical education.

 

Abstrak

Pendidikan kritis dianggap sebagai kritik (antitesa) sekaligus solusi atas pendidikan kapitalistik. Kapitalisme adalah sistem sosial, politik dan ekonomi di mana pengaturannya diserahkan kepada mekanisme pasar yang bebas dari intervensi negara. Dalam sistem sosial, politik dan ekonomi yang kapitalis, kapitalisme mempengaruhi penyelenggaraan pendidikan sehingga menghasilkan pendidikan kapitalistik. Pendidikan kapitalistik ditandai oleh ciri pengetahuan hanyalah produk sekolah, bersifat elitis, pengetahuan sebagai komoditas, melahirkan manusia “pemilik” pengetahuan, berpihak kepada kekuasaan,  meningkatkan kemiskinan dan sebagai sarana mencari uang. Hubungan guru dan anak didik seperti hubungan dalam transaksi bisnis. Permasalahannya adalah, adakah landasan pendidikan kritis dalam pendidikan Islam? Pendidikan Islam, mempunyai semangat berfikir kritis analitis. Pendidikan Nabi Ibrahim kepada Ismail, Fandzur madza tara dan keharusan tabayyun atau menguji kebenaran tentang informasi dan realitas dalam QS al-Hujurat (49): 6  merupakan di antara landasan pendidikan Islam kritis. Sikap tabayyun merupakan buah kesadaran dari proses pendidikan kritis Islam. Dengan semangat ini maka pendidikan Islam kritis telah ada jauh sebelum munculnya ideologi pendidikan kritis.

Kata kunci : pendidikan kapitalistik, pendidikan kritis, pendidikan Islam kritis.

A. Pendahuluan

Terdapat anggapan bahwa dalam proses pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan Islam, banyak  menekankan pada penguasaan materi melalui hafalan. Akibatnya, kesadaran analitis dan berfikir kritis anak didik kurang berkembang. Adanya masalah ini, sementara pihak kemudian mengembangkan ideologi pendidikan kritis. Pengembangan pendidikan kritis pada satu sisi, merupakan kritik atau antitesa atas proses pendidikan konvensional, dan pada sisi lain sebagaimana lahirnya kritisisme, merupakan jawaban atas pengaruh kuat paham Kapitalisme.

Pengaruh sistem Kapitalisme dirasakan bukan hanya dalam sistem kehidupan sosial ekonomi namun telah memasuki ranah pendidikan. Menurut Marx[1], pendidikan merupakan proses ideologis yang lebih banyak ditentukan oleh kelas dominan. Oleh karena itu ketika kehidupan sosial, ekonomi dan politik  cenderung menuju ke arah kapitalisme, maka pendidikan dijalankan dengan “semangat” kapitalisme.

Persoalannya adalah, tepatkah mengembangkan ideologi pendidikan kritis di lembaga pendidikan Islam?  Adakah prinsip-prinsip pendidikan Islam kritis yang dapat dikembangkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam. Tulisan ini bermaksud mengungkap prinsip-prinsip pendidikan Islam kritis dari sumber al-Qur’an.

 

B. Pembahasan

    1. Kapitalisme dan Pendidikan Kapitalistik

Kapitalisme merupakan tata kehidupan yang menyerahkan pengaturan kepada mekanisme pasar yang bercirikan persaingan bebas melalui “tangan yang tidak tampak” (invisible hand). Dalam sistem ini, kepentingan individu dimaksimalkan untuk menjamin kepentingan sosialnya. Pendidikan merupakan usaha kemanusiaan untuk membuat anak didik mampu beradaptasi dalam lingkungannya. Anak didik sebagai “manusia baru” harus memahami lingkungan tempat dia menjalani kehidupannya. Dengan menjadi manusia terdidik, anak dapat menjalani kehidupannya secara baik demi menggapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.

Dominasi kekuatan kapitalisme, telah menjadikan pendidikan kehilangan ruhnya. Pendidikan telah menjelma menjadi media untuk melanggengkan dan menyuburkan sistem Kapitalisme. Pengetahuan diposisikan sebagai komoditas dan produk sekolah semata. Pengetahuan  merupakan sarana untuk mencari kekayaan dan karenanya berpihak kepada kekuasaan. Hubungan guru dan anak didik merupakan hubungan transaksi bisnis. Alhasil, kapitalisasi pendidikan, telah menjadikan proses pendidikan berkiblat kepada kaum kaya, sehingga muncul adagium, “masyarakat miskin dilarang sekolah”.

Ekonomi kapitalistik memberi kebebasan individu dalam produksi. Kebebasan akan menciptakan akumulasi kapital yang dapat menimbulkan monopoli dan kartel-kartel yang diorganisir untuk mengatur pasar. Negara tidak boleh mengintervensi pasar. Stabilitas nasional diserahkan kepada mekanisme pasar. Segala produk (barang, jasa, gagasan, simbol, dan sebagainya) bebas berkontestasi dalam panggung wacana[2]. Mekanisme sepenuhnya dikendalikan oleh pasar. Menurut Adam Smith, persaingan bebas itu dikendalikan oleh “tangan yang tidak terlihat”[3]. Pasar bebas akan menguji siapa yang kuat, menang dalam persaingan, dan kemudian mampu bertahan. Persaingan bebas ini hanya akan menyisakan yang kuat dan menyingkirkan yang lemah dari arena. Pelaku pasar besar berpotensi menguasai ekonomi dan melakukan eksploitasi.

Menurut Ladislau Dowbor[4], Kapitalisme menempatkan hidup dalam hubungan jual beli atau bayar-membayar. Nilai-nilai sosial berubah menjadi transaksi bisnis. Hal yang sama berlaku berlaku dalam proses pendidikan yang merupakan usaha kemanusiaan. Dalam sistem kapitalisme, pendidikan kehilangan watak humanisnya karena proses pendidikan menjadi proses transaksi bisnis. Hubungan kemanusiaan guru dan murid hilang karena telah ditukar dengan uang.

Di antara ciri-ciri pendidikan kapitalistik adalah sebagai berikut. Pertama, pendidikan kapitalistik lebih menghargai pengetahuan yang diajarkan di sekolah. Pengetahuan di luar sekolah tidak dihargai sebagai pengetahuan. Menurut Peter L McLaren[5], kapitalisme mempunyai alasan borjuis dan hak istimewa keilmuan yang bersifat epistemis. Akibatnya, pendidikan kapitalistik melahirkan manusia berwawasan sempit dan egois. Pendidikan diselenggarakan untuk menghasilkan manusia spesialis yang mempunyai kewenangan atas disiplin spesialisasinya. Orang yang tidak mempunyai suatu bidang spesialisasi, tidak mempunyai kewenangan untuk berbicara mengenai spesialisasi tersebut karena dianggap tidak kompeten.

Kedua, pendidikan kapitalis bersifat elitis dan eksklusif. Pendidikan hanya dapat diakses oleh orang yang mempunyai uang. Pendidikan memutus kesempatan anak belajar dari alam dan memperoleh pengetahuan yang melimpah dan murah. Pengetahuan yang murah adalah pengetahuan yang dapat diakses oleh siapapun dengan harga murah karena biaya pengadaannya murah atau bahkan gratis. Pengetahuan dapat kita berikan kepada orang lain tanpa mengurangi pengetahuan kita. Kapitalisme mengemas pengetahuan menjadi komoditas yang dijajakan. Pengetahuan yang murah dimonopoli, dibuat langka, terbatas ketersediaanya, dan hanya dimiliki oleh orang-orang yang pintar, sehingga harganya menjadi mahal dan tak terbeli oleh orang miskin. Menurut Harold Raynolds[6], mereduksi bahan-bahan pendidikan seperti menarik kwitansi kosong untuk menarik dana dari kekayaan publik dan memberikannya kepada wali murid yang kaya.

Ketiga, pendidikan kapitalis melahirkan manusia elit yang menguasai pengetahuan dan dimonopoli untuk dirinya. Kapitalisme menilai hasil belajar bukan sebagai sebuah kompetensi yang dibutuhkan, tetapi kemampuan untuk memenangkan persaingan. Anak diberikan kesempatan bersaing bebas, kemudian meluluskan mereka yang berada dalam kelompok atas dan tidak meluluskan mereka yang berada dalam kelompok bawah. Nilai adalah fungsi dari daya saing kelompok atas dan bukan berdasar kompetensi. Keadaan ini membuat pengetahuan tidak berkembang sebab pengetahuan dikuasai secara individual dan tidak menjadi milik sosial.

Keempat, pendidikan kapitalistik berpihak kepada kekuasaan. Pendidikan menempatkan ilmuan di atas menara gading. Cara ini dilakukan sebagaimana para raja membangun mitos melanggengkan kekuasaan. Dosen yang sulit ditemui oleh mahasiswa dikatakan sebagai dosen yang sibuk karena berkualitas dan “laku”. Dalam masyarakat “ilmiah”, orang dikatakan kurang pandai kalau tulisannya mudah dipahami oleh orang awam.

Kelima, pendidikan kapitalis menjadikan peserta didik tidak produktif dan tidak berdaya. Hal itu disebabkan karena pendidikan menjauhkan pengetahuan dari manfaatnya untuk kehidupan. Pendidikan menjadikan mereka tidak mandiri dan menyerahkan nasib mereka kepada kapitalis. Menurut Erich Fromm[7], pendidikan telah mengaburkan isu dengan menyatakan bahwa persoalan-persoalan kehidupan terlalu rumit untuk dipahami rata-rata individu.

Dahulu petani saling belajar dan membelajarkan untuk mengatasi masalah hama tanaman. Cara ini lambat karena membutuhkan waktu. Tiba-tiba datang seorang kapitalis menawarkan produk kimia ampuh membunuh hama. Namun produk kimia itu terus ditingkatkan dosisnya setiap kali menurun efektivitasnya, hingga suatu keadaan di mana produk tidak lagi berfungsi karena hama telah kebal.

Pendidikan kapitalistik melakukan aktivitasnya seperti yang dilakukan oleh sekolah gajah. Gajah liar dijinakkan sehingga menjadi makhluk penurut. Kepadanya diajarkan bermain sepak bola, duduk, berjalan dengan dua kaki, dan sebagainya. Namun, keterampilan-keterampilan tersebut hanyalah kebutuhan pelatihnya, bukan kebutuhan gajah. Kemahiran gajah dikagumi penonton, namun ketika  gajah itu dikembalikan ke hutan, ia tidak dapat menggunakan kemahirannya untuk mencari makan.

Keenam, pendidikan kapitalis meningkatkan kemiskinan. Pendidikan kapitalis membuat pengetahuan menjadi komoditas asing, langka dan elit. Pendidikan menjadi investasi yang mahal karena sesuatu yang langka. Pendidikan hanya terbeli oleh orang kaya. Orang miskin yang ingin membeli pendidikan harus mempertaruhkan sisa kekayaannya agar dapat membeli pendidikan. Ketika memasuki dunia kerja, lulusan menjadi angkatan kerja yang melimpah jumlahnya. Pasar kerja selalu tidak cukup menampung angkatan kerja.

Murahnya harga tenaga kerja juga disebabkan karena pengetahuan yang dibeli mahal tersebut juga tidak dapat dimanfaatkan karena tidak berkaitan langsung dengan pengalaman kehidupan.  Dalam kasus ini Ivan Illich[8] menunjuk contoh penjelasan Commenicus yang mengadopsi bahasa teknik ke dalam seni mendidik anak. Alkimiawan berusaha meningkatkan nilai-nilai bahan dasar yang lebih rendah (misalnya tembaga akan diubah menjadi emas). Dengan cara menggiring zat-zat yang telah dimurnikan, mereka akan berubah menjadi emas. Para ahli kimia selalu gagal membuat emas, meski mereka sudah mencoba ratusan kali. Namun setiap kali gagal, “ilmu pengetahuan” mereka menyediakan alasan-alasan yang masuk akal hingga mereka mencoba lagi.

Ketujuh, kapitalisme menyederhanakan pendidikan sebagai sarana mencari uang. Peserta didik membeli barang dagangan berupa pengetahuan dengan harapan agar dapat dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi. Peserta didik mengeluarkan uang sebagai investasi dan berharap mendapatkan keuntungan atas investasinya. Pendidikan sebagai sebuah investasi menempatkan peserta didik sebagai sumber daya manusia (human capital) sebagaimana material lainnya.

Menurut Mansour Fakih[9], pendidikan yang diselenggarakan oleh kapitalis hanya mereproduksi sistem kapitalis saja. Pendidikan sulit diharapkan memerankan perubahan. Impian untuk membeli pengetahuan agar dapat menjualnya kembali dengan harga yang lebih tinggi hanyalah ilusi. Ketidakseimbangan permintaan dan penawaran membuat murah harga tenaga kerja, karena calon pekerja dihadapkan pada melimpahnya calon tenaga kerja yang bersaing di pasar kerja. Permintaan pekerjaan jauh melampaui ketersediaan pekerjaan, maka pekerjaan menjadi barang langka dan mahal di pasar.

2. Ideologi Pendidikan Kritis

Pengaruh kuat Kapitalisme, memposisikan pengetahuan sebagai barang yang langka dan mahal yang hanya dimiliki oleh sekelompok orang pintar yang mempunyai uang. Seorang ilmuan mempunyai hak penuh atas pengetahuan dan mempunyai kedudukan sosial yang tinggi. Pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan kapitalis adalah pengetahuan yang elitis dan eksklusif. Pengetahuan tersebut pada dasarnya merupakan pengalaman sehari-hari (yang sebenarnya murah), tetapi dimonopoli dan dikemas ulang dalam bentuk lain sehingga menjadi langka dan mahal.

Dengan model seperti itu, disadari telah menghilangkan esensi pendidikan untuk memanusiakan manusia, yaitu manusia yang yang mempunyai kesadaran dan tanggung jawab baik secara individual maupun kolektif. Kesadaran  inilah yang melahirkan apa yang kemudian disebut pendidikan kritis.

Pendidikan kritis adalah pendidikan yang membangkitkan kesadaran akan hak dan tanggung jawab individu dalam situasi sosialnya. Dengan pendidikan kritis orang dapat merasakan penindasan kapitalisme. Menurut Paulo Freire[10], pendidikan kritis membuat peserta merasa bodoh, memikirkan bagaimana sampai sedemikian bodohnya, dan mulai bersikap kritis. Pendidikan adalah aktivitas sosial yang mempunyai watak kemanusiaan. Pendidikan harus memupuk tanggung jawab sosial dan dijalankan secara sosial. Tanggung jawab guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik. Hubungan guru dan murid merupakan hubungan kemanusiaan. Guru dan murid mempunyai tanggung jawab untuk memperjuangkan nilai dalam pendidikan dalam hubungan yang setara dan tidak saling mendominasi. Menurut Jonathan Kozol[11], dalam pendidikan kritis, guru senantiasa belajar ketika sedang mengajar. Di sisi lain, murid dapat berbagi pengetahuan dengan sesamanya sambil belajar. Murid dapat menjadi guru yang mengajar ketika dia belajar.

Dalam pendidikan kritis, pengetahuan tidak menjadi monopoli orang pintar dan mempunyai uang untuk membeli. Pengetahuan adalah milik semua orang dan dapat diperoleh dengan mudah. Pengetahuan adalah pengalaman hidup sehari-hari yang dapat diperoleh hanya dengan mengalaminya.

Setiap orang dapat menjadi ilmuan dengan belajar dari pengalamannya. Menurut Gramsci[12], intelektual bukan dicirikan oleh aktivitas berpikir intrinsik, namun oleh fungsi yang dijalankan. Menurut Lebowitz[13], pengetahuan merupakan pengetahuan yang bersifat langsung tanpa mediasi uang. Pengetahuan merupakan milik publik. Pengetahuan harus dibagi-bagikan tanpa ada pembatasan. Usaha menjadikan pengetahuan menjadi hak milik pribadi dan sumber keuntungan pribadi bertentangan dengan konsep dan etos pengetahuan. Menurut Sunardi[14], tidak ada pendidik yang lebih baik kecuali pengalaman. Kita harus mengubah diri kita sendiri lewat dan atas nama pengalaman.

Dalam pendidikan kritis, pengetahuan berkembang secara sosial. Pengetahuan berkembang dalam aktivitas sosial dengan cara-cara sosial. Pengetahuan yang bersifat sosial adalah pengetahuan yang murah dan melimpah, milik publik, dan membuat orang dengan senang hati saling berbagi. Akibatnya terjadi kegiatan yang saling membelajarkan dan mengembangkan pengetahuan. Keadaan demikian membuat pengetahuan berkembang pesat.

Keberadaan pendidikan kritis dapat direnungkan dari kasus berikut. Ada orang berpendidikan tinggi, namun menganggur. Pengetahuan yang diperoleh di sekolah tidak dapat dimanfaatkan sehingga tidak dapat berbuat apa-apa sampai ada orang yang mau memberi pekerjaan dengan upah murah. Sebaliknya, ada orang berpendidikan rendah dan secara ekonomi terbatas, namun dia terus belajar dari pengalaman dan kehidupannya, dia dapat menjadi orang yang sukses. Dia tidak memperoleh pengalaman dari sekolah, tapi dari pengalaman kehidupannya yang dapat langsung dimanfaatkan untuk kehidupannya. Hal itu dapat terjadi karena banyak orang yang bersekolah tapi tidak belajar dan banyak orang yang belajar walaupun tidak bersekolah.

Sekolah memang mampu merancang dan menyelenggarakan pendidikan yang terencana dan sistematis dengan hasil yang terukur. Harus diakui bahwa sekolah merupakan lembaga yang kompeten menyelenggarakan pendidikan formal. Namun kapitalis seringkali menciptakan mitos-mitos bahwa pengetahuan hanya diperoleh dari sekolah. Hal itu mereduksi makna pendidikan sebagai proses berkehidupan. Pendidikan seharusnya menghargai bahwa pengetahuan dapat diperoleh dari seluruh kehidupan. Pembelajaran harus memberi kesempatan seluas mungkin untuk mengeksplorasi seluruh kehidupan sebagai pengalaman belajar. Dunia didudukan sebagai kelas belajar dan kurikulum harus mengakomodasi keterampilan hidup sehingga dapat dimanfaatkan dalam kehidupan.

Pemahaman dan semangat pendidikan kritis telah memompakan semangat “baru” ke dalam dunia pendidikan, terutama pendidikan yang berasaskan kebebasan berfikir. Persoalannya adalah, tepatkah  pengembangan pendidikan  demikian secara serta merta diimplementasikan dalam proses pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan Islam?  Bukankah secara epistemologis, ilmu pengetahuan itu akan lebih tepat jika lahir dan berkembang dari suatu milieu tertentu termasuk  kebiasaan, nilai-nilai yang dimilikinya dan historisitasnya. “Mengimpor” suatu pengetahuan yang lahir dari milieu dan historisitas yang berbeda memungkinkan terjadinya ketidakcocokan dan dapat menimbulkan problem aksiologis ilmu pengetahuan yang dikembangkannya.

Pijakan ini mengarahkan pada permasalahan, jika  pendidikan kritis dianggap sebagai obat atas penyakit  pendidikan kapitalis, dapatkah dikembangkan suatu model pendidikan Islam kritis? Inilah fokus permasalahan mendasar yang ingin dikaji dalam tulisan ini.

3. Pendidikan Islam Kritis, Adakah?

Konsep filosifis pendidikan Islam berpangkal tolak pada sinergis hablumminalllah, hablumminannas dan hablumminal alam (sinergi hubungan dengan Allah, manusia dan alam) berdasar ajaran Islam. Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Dari fungsi inilah dapat diambil pola kependidikan Islam, sebagaimana kependidikan Allah dengan sifat rububiyyahNya terhadap manusia dan alam.[15]

Adapun ciri-ciri manusia berpredikat khalifah Allah adalah, pertama, terjun di tengah-tengah alam dan masyarakat sehingga dapat memahami Allah, manusia dan alam sekitar. Kedua, ia tidak dibentuk oleh lingkungannya melainkan dapat membentuk lingkungannya. Ketiga, mempunyai watak dan nilai mulia sebagai komponen fundamental dari eksistensinya. Keempat, mempunyai kesadaran dan sifat kreatif untuk menjadikan bumi sebagai syurga kedua.[16]

Dengan pijakan filosofis kependidikan Islam demikian maka, pendidikan Islam merupakan proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat. Pendidikan ini memusatkan perubahan tingkah laku manusia terutama pada pendidikan etika, yang menekankan aspek produktivitas dan kreativitas manusia dalam peran dan profesinya dalam kehidupan di masyarakat dan alam semesta.[17]

Bagaimanakah pendidikan Islam memposisikan pengetahuan? Pengetahuan dalam Islam sebagaimana termaktub dalam firman Allah, surat Ali Imran (3): 190 dan surat al-Alaq (96):1-2 membentang luas di langit dan bumi. Harus di baca dan dicari dengan Allah dan bersama Allah SWT yang menciptakan:“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian siang dan malam, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal”. Bacalah! Dengan menyebut nama Allah yang Menciptakan. 

Berpijak pada kedua ayat di atas, pengetahuan dalam Islam bersumber dari Allah, melalui berbagai proses keilmuan dan produk keilmuannya harus diabdikan untuk Allah SWT dan kemaslahatan manusia serta alam. Proses pencarian pengetahuan atau proses ilmiah dalam pendidikan Islam adalah proses kerja keras dan tiada henti. Hal ini didasarkan pada firman,  “Maka apabila engkau telah selesai dari suatu pekerjaan,(penelitian keilmuan) maka bersiaplah untuk bekerja keras kembali (urusan lainnya). Dan hanya kepada Rabb-Mulah engkau berharap”. QS. al Insyirah(94): 7-8.

Produk keilmuan yang dihasilkan dalam pendidikan Islam bukanlah milik pribadi melainkan diperuntukan bagi penciptaan kemaslahatan masyarakat. Demikian ditegaskan Hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani: “Perumpamaan orang yang menuntut ilmu lalu tidak mengajarkan, menyebarkan dan mengamalkannya adalah seperti orang yang menyimpan (menimbun) hartanya tapi tidak pernah membelanjakannya”. Hadits lain yang diriwayatkan oleh Abdul Hasan Ibnu Akhram dari Anas bin Malik: “Pelajarilah ilmu apapun yang kamu kehendaki, demi Allah, kalian tidak akan diberi pahala hanya dengan mengumpulkan ilmu sebelum kamu mengamalkannya”.

Dalam falsafah Jawa, ilmu iku kalakone kanthi laku. Berdasar falsafah tersebut, ilmu pengetahuan dapat diraih melalui pengalaman dan tindakan. Ilmu itu diperoleh melalui proses perjuangan yang sungguh-sungguh. Orang Jawa menyebutnya dengan ilmu titen. Ilmu titen adalah pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman niteni. Ilmu titen secara formal diperoleh dari usaha menyiapkan rencana tindakan, mencoba tindakan, mengamati dan mengevaluasi hasil dari akibat tindakan dan merenungkan keseluruhan tindakan untuk membuat rencana tindakan yang lebih baik.

Selanjutnya bagaimanakah sikap pembelajar terhadap ilmu pengetahuan? Adakah landasan pendidikan Islam kritis? Pendidikan Islam sebagaimana terkandung dalam makna ta’lim, menurut Ridlwan Nasir merupakan proses transformasi dan iternalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islami pada peserta didik melalui penumbuhan dan pengembangan potensi fitrah manusia untuk mencapai keseimbangan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya. Dari pemahaman ini maka, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islami  bukanlah sekedar pengetahuan dan nilai-nilai tanpa hasil dari kritik dan analisis ilmiah.

Ilmu pengetahuan Islam dan juga nilai-nilai Islami tidak boleh  immune terhadap kritik ilmiah atau ghairu qabilin linnaqd, melainkan mempunyai keharusan untuk diuji secara terus-menerus melalui kajian ilmiah dari berbagai disiplin ilmu  agar dapat menghasilkan suatu pemikiran yang genuine Islam pada satu sisi dan aplikatif solutif untuk mengatasi persoalan masyarakat pada konteksnya.

Dari pijakan ini, model pendidikan kritis Nabi Ibrahim tentang mimpi menyembelih puteranya Ismail yaitu dengan menggunakan terma, Fandzur madza tara pada QS As-Shafat(37): 102 merupakan landasan pendidikan Islam kritis. “Maka tatkala anak itu sampai (dewasa) berusaha bersama-sama Ibrahim. Ibrahim berkata:” Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu?”

Pada ayat ini secara tegas memperlihatkan bagaimana proses pendidikan atas nilai keyakinan dan kepatuhan Nabi Ibrahim kepada Tuhan-Nya di ta’lim kan kepada anak didiknya (Ismail) secara dialogis dalam situasi proses yang tepat dan memberi kesempatan kepada Ismail untuk berfikir kritis. Ismail setelah proses itu, dengan mantap; Ia menjawab: “Hai Bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku  termasuk orang-orang yang sabar.

Pada QS al-Hujurat(49): 6, “Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Asbabun Nuzul ayat itu, diriwayatkan terkait dengan tugas Nabi kepada seseorang untuk mengambil sejumlah zakat pada bani al-Haris, namun seseorang itu belum sampai ke bani al-Haris mempunyai itikad lain dan kembali dengan mengabarkan bahwa bani al-Haris  tidak mau menyerahkan zakat dan bahkan mau membunuhnya. Berita itu, kontan menimbulkan kemarahan di kalangan sahabat dan berniat memerangi bani al-Haris. Namun Nabi kemudian mengutus utusan lain menemui bani al-Haris dan nyatalah bahwa utusan Nabi pertama tidak sampai ke al-Haris dan berita yang dibawa oleh utusan pertama benar-benar bohong. Telitilah dengan benar, atau tabayyun dengan demikian merupakan landasan pendidikan Islam kritis. Tabayyun tidak akan menjadi suatu sikap ilmiah anak didik kecuali melalui proses pendidikan Islam kritis.

Proses pendidikan Islam kritis berdasar landasan fandzur madza tara dan tabayyun dengan demikian merupakan suatu pendidikan yang dilakukan secara penuh kasih sayang, dialogis, terbuka dan “sejajar” dalam hal-hal tertentu, sehingga  pebelajar dapat mengamati, mencermati, mencoba melakukan tindakan, mengevaluasi, menguji dan melakukan refleksi untuk membuat perbaikan tindakan.

Dengan dua landasan ini, pendidikan Islam kritis tidak bermaksud mengabaikan ideologi pendidikan kritis, namun harus diposisikan bahwa idelogi pendidikan kritis merupakan turunan dari teori kritis yang dihasilkan sebagai kritis atas pahami Kapitalisme dan Positivisme. Ideologi pendidikan kritis harus diproporsionalkan dalam konteks kelahiran dan perkembangannya. Sebaliknya pendidikan Islam kritis yang berpijak pada ajaran al-Qur’an di atas dapat disimpulkan sementara akan lebih tepat untuk diaplikasikan dalam proses pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan Islam.

 

C. Penutup

Temuan dua landasan pendidikan Islam kritis harus diakui belum merupakan suatu konsep pendidikan Islam kritis yang utuh. Pada dasarnya masih banyak ajaran-ajaran Islam yang mengandung semangat penelitian ilmiah guna mencapai suatu keilmuan yang dapat mendekati hakikat kebenaran. Tawaran ini, lebih merupakan  suatu kajian awal untuk melakukan kajian lebih lanjut tentang pendidikan Islam kritis.

Harus diakui bahwa adopsi dan implementasi ideologi pendidikan kritis  dalam proses pendidikan Islam akan mengalami permasalahan-permasalahan terutama pada aspek epistemologi dan aksiologi. Keilmuan-keilmuan yang dikembangkan  dalam proses pendidikan Islam  mempunyai karakteristik yang sangat berbeda dengan keilmuan-keilmuan yang dikembangkan baik dalam aura pendidikan Kapitalisme dan pendidikan kritis sebagai kritik atas positivisme. Meskipun harus diakui, kontribusi ideologi pendidikan kritis terutama pada aspek tujuan  mengembalikan kemanusiaan dalam pendidikan dan menciptakan tata kehidupan yang lebih baik terdapat kemiripan.

 

DAFTAR KUTIPAN

[1] Nurani Soyomukti. Metode pendidikan Marxis-sosialis. (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2008), h. 90
[2] Nurani Soyomukti. Metode pendidikan Marxis-sosialis, …h. 93
[3] Arif Budiman. Sistem perekonomian Pancasila dan ideologi ilmu sosial di Indonesia. (Jakarta : PT Gramedia, 1989), h. 8
[4] Paulo Freire. Pedagogi hati. Terjemahan oleh Widya Martaya.(Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2001), h. 27
[5] Miguel Escobar, dkk. Sekolah kapitalisme yang licik. Terjemahan oleh Mundi Rahayu. (Yogyakarta : LkiS, 1998), h. ix
[6] Paulo Freire. Pendidikan masyarakat kota. Terjemahan oleh Agung Prihantoro. (Yogyakarta : LkiS, 2008), h. x
[7] Paulo Freire, Ivan Illich, Erich Fromm, dkk. Menggugat pendidikan. Terjemahan oleh Omi Intan Naomi. (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004), h. 349
[8] Paulo Freire, Ivan Illich, Erich Fromm, dkk. Menggugat pendidikan,…, h. 520
[9] Roger Simon. Gagasa-gagasan politik Gramsci. Terjemahan oleh Kamdani dan Imam Baehaqi. (Yogyakarta : Kerja sama Insist dengan Pustaka Pelajar, 2001), h. xvii
[10] Paulo Freire. Pendidikan kaum tertindas. Terjemahan oleh Utomo Danandjaja dkk. (Jakarta : LP3ES, 1985), h. 2
[11] Paulo Freire. Pendidikan sebagai proses, surat-menyurat pedagogis dengan para pendidik Guinea-Bissau. Terjemahan oleh Agung Prihantoro. (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000), h. xi
[12] Roger Simon. Gagasa-gagasan politik Gramsci….., h. 141
[13] Michael A Lebowitz. Sosialisme sekarang juga. …., h. 85
[14] William A Smith. Conscientizacao tujuan pendidikan Paulo Freire. Terjemahan oleh Agung Prihantoro. (Yogyakarta : Pustaka Pelajar bekerja sama dengan Read Book, 2001), h. vii
[15] M Ridlwan Nasir, Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005, h. 34
[16]Ibid., h. 37-38
[17] Ibid., h.55

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 Departemen Agama RI,  Al-Qur’an dan terjemahnya, 1992
Arif Budiman, Sistem perekonomian Pancasila dan ideologi ilmu sosial di Indonesia. (Jakarta: PT Gramedia, 1989)
Miguel Escobar, dkk. Sekolah kapitalisme yang licik. Terjemahan oleh Mundi Rahayu. (Yogyakarta : LKiS, 1998)
Paulo Freire, Pedagogi hati. Terjemahan oleh Widya Martaya. (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2001)
Paulo Freire, Pendidikan kaum tertindas. Terjemahan oleh Utomo Danandjaja dkk. (Jakarta : LP3ES, 1985)
Paulo Freire, Pendidikan masyarakat kota. Terjemahan oleh Agung Prihantoro. (Yogyakarta : LkiS, 2008)
Paulo Freire, Pendidikan sebagai proses, surat-menyurat pedagogis dengan para pendidik Guinea-Bissau. Terjemahan oleh Prihantoro. (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000)
Paulo Freire, Ivan Illich, Erich Fromm, dkk. Menggugat pendidikan. Terjemahan oleh Omi Intan Naomi. (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004)
HM Chabib Toha, Penyunting, Reformulasi Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar-Fakultas Tabiyah IAIN Walisongo, 1996)
Irawan dan M Suparmoko, Ekonomika pembangunan. (Yogyakarta : BPFE, 1996)
Michael A Lebowitz, Sosialisme sekarang juga. Terjemahan oleh Darmawan. (Yogyakarta : Resist Book, 2009)
M Ridlwan Nasir, Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
Roger Simon, Gagasan-gagasan politik Gramsci. Terjemahan oleh Kamdani dan Imam Baehaqi. (Yogyakarta: Kerja sama Insist dengan Pustaka Pelajar, 2001)
William A Smith, Conscientizacao tujuan pendidikan Paulo Freire. Terjemahan oleh Agung Prihantoro. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar bekerja sama dengan Read Book, 2001)
Nurani Soyomukti, Metode pendidikan Marxis-sosialis. (Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2008)

Satu tanggapan untuk “Pendidikan Islam dan Ideologi Pendidikan Kritis”