Bg

MENGEMBANGKAN GREEN CAMPUS

Diterbitkan tanggal 16 Mei 2017

Oleh: Dr. Muhammad Munadi, M.Pd
(Wakil Rektor II, Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan)

Pemeringkatan Mutu Perguruan Tinggi

Kampus perguruan tinggi memang memiliki dinamika luar biasa. Hal ini dipengaruhi lingkungan internal maupun eksternal. Sisi eksternal sangat menpengaruhi lingkungan internal untuk setiap saat berubah. Tuntutan perubahan terutama berkaitan dengan mutu yang didorong oleh  pergerakan perangkingan perguruan tinggi baik tingkat nasional maupun internasional. Perangkingan dari sisi publikasi dan peforma website terdapat webometrics dan 4ICU.  Selain itu ada perangkingan yang lebih lebih luas yaitu Quacquarelli Symonds (QS) World University dan Times Higher Education (THE) World University Rankings.

Perangkingan Quacquarelli Symonds (QS) World University menilai mutu perguruan tinggi yang meliputi reputasi akademis (bobot 30%) tiap jurusan/pogram studi, reputasi karyawan (bobot 20%) perguruan tinggi, rasio dosen/mahasiswa (bobot 20%) setiap program studi, penghargaan hasil riset (bobot 15%) perguruan tinggi, jumlah riset ilmiah per dosen (bobot 15%) tiap fakultas, proporsi dosen internasional (2,5%) dan mahasiswa internasional (2,5%), proporsi pertukaran mahasiswa ke luar negeri (2,5%) dan proporsi penerimaan pertukaran mahasiswa dari luar negeri.

Perangkingan tersebut masih terbatas pada input dan proses pendidikan. Pemeringkatan yang lebih luas dengan menilai kesiapan kerja lulusan dilakukan Times Higher Education (THE). Perangkingannya  bernama lengkap Times Higher Education (THE) World University Rankings memiliki 4 Indikator utama penilaian, yaitu: kriteria Kualitas penelitian (Research Quality) terdiri atas peer review (arts & humanities, engineering & IT, life sciences & biomedicine, natural sciences dan social sciences) dan citation per faculty memiliki bobot 60%, Kriteria kesiapan kerja Lulusan (Graduate Employability) memiliki bobot 10%, Kriteria pandangan internasional (International Outlook – program internasional tiap fakultas dan mahasiswa internasional) memiliki bobot 10% serta Kriteria kualitas pengajaran (Teaching Quality) bobot penilaiannya 20%.

Keempat  pemeringkatan tersebut tingkatannya internasional. Yang bersifat nasional ada perangkingan yang dilakukan Kemenristekdikti yaitu Ranking Perguruan Tinggi. Indikatornya meliputi: Dosen (12%): menghitung jumlah dosen berpendidikan doktor, lektor kepala dan guru besar, serta kecukupan dosen tetap, Kualitas dosen (18%): menghitung jumlah dosen tetap terhadap jumlah mahasiswa pada perguruan tinggi bersangkutan, Akreditasi (30%): menilai akreditasi institusi maupun jumlah program studi terakreditasi A maupun B, Kualitas kegiatan kemahasiswaan (10%): menilai prestasi mahasiswa, Kualitas kegiatan penelitian (30%): menghitung capaian kinerja penelitian sesuai kreteria yang ditentukan serta jumlah dokumen yang terindeks scopus. Perbedaan mencolok antara perangkingan nasional dengan internasional terletak pada pemberian bobot kegiatan kemahasiswaan. Keunikan ini yang luar biasa. Tidak sekedar yang bersifat intrakurikuler dan kokurikuler tetapi juga menilai kegiatan kemahasiswaan yang bersifat ekstrakurikuler.

Terlepas itu semua pada hakekatnya pencapaian mutu perangkingan di atas hanya bisa didukung oleh suasana kampus yang mendukung untuk berfikir jernih dan nyaman. Kampus yang memiliki kepedulian atas lingkungan yang bersih dan hijau memiliki pohon yang seimbang dengan para penghuninya sehingga produsen oksigen-nya cukup banyak dan kualitasnya bersih. Disinilah menjadi penting dan unik pemeringkatan yang dilakukan oleh Univeristas Indonesia Green Metric (UI Green Metric). Pemeringkatan ini mendasarkan pada indikator yang meliputi: Setting and Infrastructure, Energy and Climate Change, Waste, Water, Transportation, dan Education (http://greenmetric.ui.ac.id/). Indikator yang ada menunjukkan kampus hijau dari sisi infrastruktur memiliki banyak ruang bagi kehijauan dan dalam menjaga lingkungan, serta pengembangan energi berkelanjutan. Sisi perubahan iklim, perguruan tinggi diharapkan dapat meningkatkan usaha efisiensi energi pada bangunan mereka dan untuk lebih memperhatikan sumber daya alam dan energi. Ini berarti usaha maksimal sebuah kampus perguruan tinggi dalam penggunaan peralatan hemat energi, kebijakan penggunaan energi terbarukan, penggunaan listrik total, program konservasi energi, green building, program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, serta kebijakan pengurangan emisi gas rumah kaca.

Pada aspek Limbah, kampus memiliki kegiatan pengolahan dan daur ulang limbah (limbah beracun, pengolahan limbah organik, pengolahan limbah anorganik, pembuangan limbah, kebijakan untuk mengurangi penggunaan kertas dan plastik) dalam rangka menciptakan lingkungan yang berkelanjutan. Sisi pemanfaatan air, perguruan tinggi dapat mengurangi penggunaan air, meningkatkan program konservasi, dan melindungi habitatnya.

Penyumbang terbesar polusi udara dan suara terjadi pada sektor transportasi berbahan bakar fosil. Implementasi sisi ini, sebuah kampus harus mempunyai kebijakan transportasi untuk membatasi jumlah kendaraan bermotor masuk di dalam kampus. Indikator terakhir adalah pendidikan. Hal ini mendasarkan pemikiran bahwa universitas memiliki peran penting dalam menciptakan kepedulian generasi baru terhadap keberlanjutan.

Green Campus : Implementasi di PTKI

Pencapaian mutu sedang dirintis oleh lembaga ini, terutama mutu yang berkaitan dengan pemeringkatan sisi intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler sekaligus mutu lingkungan hidup. Mutu yang terakhir ini sangat diperhatikan oleh Islam terutama berkaitann dengan penciptaan lingkungan yang bersih dan hijau. Terutama perintah untuk merawat tanaman sangat banyak tercantum dalam al Qur’an maupun Hadits. Dalam al Qur’an surat Al-An’am ayat 141 dinyatakan:

 

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۚ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“ Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.

Ayat di atas menunjukkan bahwa umat Islam harus peduli berkaitan dengan dunia tanaman: pertanian, perkebunan dan kehutanan karena menjadikan berlangsungnya kehidupan seluruh makhluk. Hal ini dikarenakan dunia tanaman selain untuk mengembangkan zakat juga mengembangkan kehidupan makhluk selain manusia seperti pernyataan hadits-hadits berikut:

Hadtis dari Jabir bin Abdullah Rodhiyallohu ‘Anhu dia bercerita bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَ مَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَ مَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةً وَ لاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً

“Tidaklah seorang muslim menanam suatu pohon melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut sebagai sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR. Imam Muslim Hadits no.1552)

Hadits yang mirip diriwayatkan dari Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا, أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيْمَة ٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim menanam pohon, tidak pula menanam tanaman kemudian pohon/ tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia atau binatang melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR. Imam Bukhari hadits no.2321)

Hadits ketiga yang juga hampir sama berasal dari Jabir bin Abdullah Rodhiyallohu ‘Anhu dia berkata, telah bersabda Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam:

فَلاَ يَغْرِسُ الْمُسْلِمُ غَرْسًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَ لاَ دَابَّةٌ وَ لاَ طَيْرٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu tanaman itu dimakan manusia, binatang ataupun burung melainkan tanaman itu menjadi sedekah baginya sampai hari kiamat.” (HR. Imam Muslim hadits no.1552).

Ketiga hadits di atas menunjukkan bahwa menanam sekaligus merawat tanaman memiliki manfaat dunia maupun akhirat. Manfaat dunia karena menanam tanaman akan menghasilkan produksi (bahan makanan, buah-buahan, oksigen, dan tempat berlindung makhluk). Sedangkan manfaat akhirat, tanaman yang ditanam dimanfaatkan oleh makhluk merupakan sedekah bagi penanamnya dan yang merawat tanaman.

Dua manfaat di atas kalau diimplelementasikan di kampus PTKI sungguh luar biasa baik yang dilakukan oleh pimpinan, karyawan maupun dosen. Tingkatan pimpinan saat ini mengacu pada misi Rektor sedang dirintis “hutan kampus” di sebelah selatan rektorat. Konsep yang dikembangkan hutan kampus sekaligus untuk sarana parkir.  Parkir kendaraan yang diberi peneduh pepohonan.

Mahasiswapun merintis kampus hijau melalui penanaman pohon. Kegiatan ini pernah  dimulai oleh mahasiswa penerima bidik misi, namun sayangnya kurang dirawat sehingga riwayat tanamannyapun tidak pernah diketahui. Kegiatan ini diperbaiki oleh salah satu UKM Pecinta alam di lembaga ini. Disamping menanam pohon  sekaligus pemeliharaanya oleh UKM Specta. Mereka tiap saat merawat dan mengukur pertumbuhan tanaman yang sudah ditanam. Ketika tanaman mati maka individu yang menanam pertama kali harus menggantinya dengan tanaman baru.  Untuk memperbanyak jumlah tanaman di kampus perlu ada gerakan one student one tree, tertutama bagi mahasiswa baru. Tiap mahasiswa baru sejak awal harus menanam satu pohon diabadikan dengan foto mahasiswa beserta pohon yang ditanam. Mereka diwajibkan merawat pohon yang ditanam sampai yang bersangkutan lulus. Sebelum ujian skripsi mereka harus berfoto dengan pohon yang ditanam sehingga terlihat perkembangan pohon yang ditanam dari kecil sampai besar.

Kalau jumlah pohon semakin bertambah banyak, diperlukan program lain seperti pengurangan penggunaan Air Conditioner. Pengurangan alat elektronik ini diganti dengan oksigen alami yang dihasilkan oleh tanaman akan membawa kesegaran tersendiri bagi kampus. Namun itu semua diperlukan perimbangan antara lahan hijau dengan jumlah gedung yang dibangun. Lahan hijau semestinya harus lebih besar daripada tanah yang diperuntukkan untuk bangunan. Wallahu a’lam.

 

Daftar Bacaan:

http:// greenmetric.ui.ac.id/

http:// halokampus.com/kuliah/peringkat-ranking-universitas-indonesia/

http:// romisatriawahono.net/2007/09/21/teknik-perangkingan-universitas-thes-qs/

dan lainnya.

 

Komentar ditutup.