Bg

MULTICHANNEL MARKETING PERGURUAN TINGGI

Diterbitkan tanggal 23 Oktober 2017

Oleh: Dr. H. Muhammad Munadi, M.Pd
(Wakil Rektor II, Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan)

IAIN Surakarta telah mengalami perkembangan pesat berkaitan dengan daerah asal calon mahasiswa baru.  Awalnya masih berkutat berasal dari 1 atau 4 Propinsi yaitu Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur ketika masih berstatus sekolah tinggi dan pendaftaran mahasiswa baru masih manual. Saat ini jangkauan propinis semakin meluas lebih dari  22 Propinsi asal mahasiswa setelah perubahan status menjadi Institut dan penerimaan  mahasiswa baru dilakukan secara on-line. Data berikut menunjukkan bahwa sosialisasi di wilayah Propinsi Jawa Tengah sudah cukup karena sudah mencapai 85,8%. Sosialisasi semestinya sudah harus mulai bergeser ke Jawa Timur yang hanya 7,9 % dan Jawa Barat baru 1,6%. Tabel berikut menggambarkannya:

Tabel 1. Asal Mahasiswa

 Propinsi Tahun Jumlah Prosentase
2014 2015 2016 2017 Total %
Aceh 2 2 0 2 6 0,059435
Bali 5 1 2 1 9 0,089153
Banten 4 11 10 23 48 0,475483
Bengkulu 0 3 6 7 16 0,158494
DI Yogyakarta 22 12 24 45 103 1,020,307
DKI Jakarta 2 14 11 22 49 0,485389
Gorontalo 0 0 1 0 1 0,009906
Jambi 2 3 1 6 12 0,118871
Jawa Barat 31 43 33 58 165 1,634,473
Jawa Tengah 1853 2004 2378 2428 8663 8,581,476
Jawa Timur 132 193 221 254 800 7,924,715
Kalimantan Selatan 1 0 0 2 3 0,029718
Kalimantan Barat 0 2 2 0 4 0,039624
Kalimantan Tengah 1 1 5 7 14 0,138683
Kalimantan Timur 0 2 3 6 11 0,108965
Kalimantan Utara 0 0 0 2 2 0,019812
Kepulauan Bangka Belitung 0 0 1 1 2 0,019812
Kepulauan Riau 0 0 0 1 1 0,009906
Lampung 8 11 16 10 45 0,445765
Maluku 0 1 2 0 3 0,029718
Nusa Tenggara Barat 2 1 2 3 8 0,079247
Nusa Tenggara Timur 2 0 1 8 9 0,089153
Papua 0 2 0 2 4 0,039624
Papua Barat 0 0 0 2 2 0,019812
Riau 5 2 5 9 21 0,208024
Sulawesi Barat 0 0 1 2 3 0,029718
Sulawesi Selatan 0 1 0 5 6 0,059435
Sulawesi Tengah 1 1 1 2 5 0,049529
Sulawesi Utara 0 0 1 2 3 0,029718
Sumatera Barat 4 0 2 0 6 0,059435
Sumatera Selatan 6 0 5 15 26 0,257553
Sumatera Utara 0 2 0 3 5 0,049529
Thailand 6 3 2 5 16 0,158494
Total 2.089 2.323 2.736 2.947 10.095

Fokus  daerah Jawa akan menghadapi kompetitor yang luar biasa baik di tingkat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Negeri/Swasta apalagi Perguruan Tinggi Umum (PTU) Negeri maupun swasta. IAIN Surakarta harus mulai merintis sosialisasi/marketing di luar Jawa terutama daerah yang masih kurang jumlah calon mahasiswanya. Pulau yang harus mulai digarap adalah Nusa Tenggara, Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Maluku serta Papua. Selain itu pengembangan sosialisasi/marketing di luar negeri juga harus diperluas tidak hanya negara Thailand. Negara-negara yang tergabung sebagai anggota ASEAN juga perlu digarap.  Hal ini sangat penting juga seiring dengan pengembangan Bandar Udara Adi Sumarmo yang mengembangkah jalur penerbangan secara langsung ke beberapa daerah di luar Jawa.

Selain sosialisasi secara langsung, perlu juga diperkuat website maupun subdomain beserta armadanya. Penguatan kuantitas dan kualitas kontent website/subdomain dengan ditambah minimal 3 bahasa (Arab, Inggris, dan Indonesia) perlu diperkuat agar menjadi ujung tombak marketing dan sosialisasi lembaga. Website/subdomain harus efektif dan intuitif karena bisa menjadi alat marketing yang sangat penting bahkan disebut “the ultimate brand statement” (Hanover Research, 2015:4).  

Selain perkembangan pesat seperti yang  dikemukakan di atas, perkembangan pesat juga bisa dilihat dari  latar belakang pendidikan mahasiswa baru. Gambarannya sebagai berikut:

Tabel 2. Latar Belakang Pendidikan Mahasiswa Baru

Asal Pendidikan Sebelumnya 2014 2015 2016 2017  Total %
MA 760 713 861 961 3295 3,263,992
Paket C 3 44 6 8 61 0,60426
Pondok Pesantren 29 0 41 43 113 1,119,366
SMA 828 918 1253 1322 4321 4,280,337
SMA di Luar Negeri 6 3 2 5 14 0,138683
SMK 463 645 573 608 2289 2,267,459
Total 2089 2323 2736 2947 10093 9,998,019

Tabel tersebut menunjukkan bahwa dominasi mahasiswa baru yang masuk di IAIN Surakarta  berasal dari SMA (42%), disusul MA (32,6%), baru kemudian SMK (22,6%). Selisih antara latar belakang mahasiswa baru dari SMA dan MA lebih dari 10%. Ini menunjukkan prosentase yang tidak bisa dianggap kecil dan ringan.

Mahasiswa baru yang berasal dari Pondok Pesantren relatif kecil hanya 1,1%. Hal ini menjadi pertanyaan besar apakah selama ini sosialisasi/marketing lembaga ini ke pondok pesantren (ponpes) sangat kurang atau ada problem lain?  Problem lain atas fenomena tersebut belum ada temuan dari penelitian selama ini.

Agenda tahun 2018, setelah adanya penandatanganan memorandum of understanding (MOU) antara IAIN Surakarta dan Asosiasi Pondok Pesantren wilayah Jawa Tengah pada tahun ini semestinya bisa mendongkrak jumlah peminat dari ponpes masuk ke IAIN Surakarta di tahun yang akan datang.

 

Pemanfaatan Teknologi Digital Dalam Marketing

Pemaparan tentang sosialisasi dan marketing di atas perlu dikembangkan seperti yang disarankan Frederic Lee (2017) yang menyatakan bahwa perguruan tinggi harus bergerak melampaui brosur tradisional, majalah dan papan reklame menuju lansekap pemasaran digital. Dengan bantuan teknologi digital perguruan tinggi dapat memiliki jangkauan yang lebih luas dan potensi yang lebih besar dalam meningkatkan visibilitas lembaga secara cepat. Berikut adalah lima bidang utama pemasaran digital:

  1. Instagram untuk Perguruan Tinggi. Pemanfaatan instagram untuk pengenalan lembaga perguruan tinggi disepakati Konsulat Jenderal Australia di Surabaya ketika bertamu di IAIN Surakarta (18/10/2017). Hal ini dikarenakan pengguna instagram adalah anak muda yang berjumlah 700 juta di seluruh dunia sebagai target pasar pada lembaga ini. Jangkauan instagram yang masif dan interaktif memeberikan kesempatan institusi pendidikan tinggi untuk menampilkan program terbaik, profil kampus, mahasiswa dan alumni terkenal mereka. Foto kampus yang bagus selama berbagai acara dan program dapat membuat institusi hadir secara visual di antara sejumlah besar calon mahasiswa yang akan menempuh pendidikan lanjut.
  2. Video dan Animasi dalam Pemasaran Perguruan Tinggi. Video adalah cara yang telah terbukti untuk mempopulerkan program, kegiatan, sumber daya manusia kampus dan iklan untuk institusi pendidikan tinggi. Ini diketahui memiliki dampak lebih besar daripada teks, dan ada banyak saluran yang tersedia saat ini bagi institusi untuk berbagi video mereka. Ini termasuk You Tube, Twitter, Facebook, Snapchat dan Instagram. Video dan animasi yang dibuat secara strategis dapat dimanfaatkan untuk mencapai demografi target untuk sekolah dan program gelar mereka.
  3. Memanfaatkan pendidik dan tenaga kependidikan untuk
    Public Relation (PR) digital. Keahlian pendidik dan tenaga kependidikan universitas merupakan komponen penting dari strategi pemasaran pendidikan tinggi yang sukses. Dengan memanfaatkan tim PR digital profesional dengan pemahaman yang tajam tentang lanskap media dan kecermatan memahami pangsa pasar, pendidik dan tenaga kependidikan dapat berbagi pengetahuan/pengalaman profesional dan dapat meningkatkan personal branding mereka serta meningkatkan program/institutional branding
  4. Infografis dan Sumber Daya Visual. Infografis adalah representasi visual yang kuat dari data yang dimiliki perguruan tinggi (baik akademik, mahasiswa, penelitian, pengabdian pada masyarakat, sarana prasarana, keterjangkauan biaya, dll) untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas input mahasiswa. gunakan dalam berbagai cara di seluruh industri. Di bidang pendidikan tinggi, ini adalah alat yang berguna dalam menyediakan statistik karir dan industri untuk membantu tim penerimaan.
  5. Virtual Reality dan Virtual Tours. Sejumlah besar institusi telah sepenuhnya menerapkan virtual tours yang memungkinkan calon mahasiswa dan orang tua mereka dapat menjelajahi kampus dari jarak Orang tua dan calon mahasiswa mengetahui seluk beluk perguruan tinggi secara mendalam melalui dunia maya dan realitas dunia maya tersebut secara riil memang ada ketika kopdar (kopi darat). Namun yang harus diingat harus ada kesamaan kualitas (data, informasi, dan pengetahuan) antara yang diunggah di dunia virtual dengan realitas, sehingga tidak ada kebohongan informasi.

Pemanfaatan media sosial ini sangat efektif bagi marketing yang lebih luas audiennya. Hal ini dibuktikan dari penelitian Kara Burney. (tth) menunjukkan While higher education institutions are seeing higher follower growth and social media engagement overall, the actual interactions aren’t evenly distributed between channels. For instance, average Twitter engagement levels remain relatively low, while Instagram seems to deliver the highest levels of engagement in relation to the number of followers. Gambarannya sebagai berikut:


Perluasan pangsa pasar melalui media sosial harus segera diseriusi lembaga dan disinergikan antar komponen. Dengan demikian citra lembaga akan meningkat. Wallahu a’lam.

 

Rujukan:

Frederic Lee. (2017). 5 higher education marketing strategies. Higher Education Marketing Journal. August 30, 2017 , http://circaedu.com/hemj/5-higher-education-marketing-strategies/

Hanover Research. (2016). 2016 Trends In Higher Education Marketing, Enrollment, And Technology. November 2015 Hanover Research. www.hanoverresearch.com

Kara Burney. (tth).  Higher Education Marketing: Why Universities Are Skyrocketing on Social. https://trackmaven.com/blog/higher-education-marketing/

Komentar ditutup.