Bg

Nyantrinya Seorang Pustakawan; Refleksi Hari Santri Nasional 22 Oktober

Diterbitkan tanggal 23 Oktober 2017

Oleh: Triningsih, S.IP.
(Pustakawan Muda IAIN Surakarta)

#BanggaIAINSurakarta

Tanggal 22 Oktober merupakan Hari Santri Nasional. Pertama kali dicanangkan yaitu pada tahun 2015 oleh Presiden Jokowi. Hari itu merupakan sebuah hari yang membangun semangat santri untuk lebih memperbaiki kualitas diri demi kemajuan bangsa Indonesia untuk kedepannya. Dan juga sebuah hari untuk memperingati peran besar kaum kiai dan kaum santri dalam perjuangannya melawan penajajah yang bertepatan dengan resolusi jihad dari Mbah KH. Hasyim Asy’ari.

Sejarah mencatat bahwa pada tanggal 22 Oktober 1945 di Surabaya, KH. Hasyim Asy’ari menyerukan semangat jihad bahwa “Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib bagi setiap orang”. Resolusi jihad tersebut untuk mencegah dan mengahalangi kembalinya tentara kolonial Belanda yang mengatas namakan NICA. Beliau membakar api semangat para santri Surabaya untuk menyerang markas Brigade 49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby. Berlangsungnya perang selama tiga hari yaitu tanggal 27,28,29 Oktober yang menewaskan jenderal tersebut beserta kurang lebih 2.000 pasukan.

Menurut Djaelani (1994:7) dalam bukunya Peran Ulama dan Santri dalam Perjuangan Politik Islam di Indonesia, pengertian santri adalah sekelompok orang yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan ulama. Karenanya berbicara tentang kehidupan ulama senantiasa menyangkut pula kehidupan para santri yang menjadi murid dan sekaligus menjadi pengikut dan pelanjut perjuangan ulama yang setia. Santri adalah siswa atau mahasiswa yang dididik di dalam lingkungan pondok pesantren.

 

Transformasi Santri kedalam diri Pustakawan

Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan.

Sedangkan menurut Kamus Istilah Perpustakaan karangan Lasa, H.S. Librarian – pustakawan, penyaji informasi adalah tenaga profesional dan fungsional di bidang perpustakaan, informasi maupun dokumentasi.

Berbicara tentang pustakawan tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah berbicara tentang perpustakaan. Karena pada dasarnya ruhnya perpustakaan ada pada pustakawannya, sedangkan jasadnya adalah perpustakaan itu sendiri.

Peran sebuah perpustakaan dalam pendidikan sangatlah penting. Jantung sebuah pendidikan terletak pada perpustakaannya. Mati dan hidupnya suatu pendidikan ada pada perpustakaannya. Kualitas institusi pendidikan salah satunya bisa dilihat dari keberadaan perpustakaan itu sendiri. Isi yang ada di dalam perpustakaan merupakan hal patut diperhitungkan. Tersedianya koleksi yang beraneka ragam, komputer yang lancar koneksinya, serta gedung yang nyaman adalah bentuk bagus tidaknya seuah perpustakaan tersebut. Tetapi dari semua itu yang paling penting adalah pustakawannya.

Pustakawan yang mempunya karakter serta berdedikasi tinggi adalah dambaan semua orang. Jiwa dan raganya terpaut hanya untuk mengabdikan dirinya untuk bangsa dan negara. Pustakawan yang berkarakter adalah perpustakaan itu sendiri. Ia akan senantiasa haus untuk belajar dan terus belajar karena dalam benak pikirannya belajar itu adalah sepanjang hayat. Belajar dalam institusi pendidikan yang berkaitan dengan ilmu yang berkaitan, maupun belajar secara praktis ketika sedang melayani pemustaka di perpustakaannya.

Oleh karena itu, di Hari Santri Nasional 22 Oktober ini, semoga para santri dan para pustakawan yang tersebar di seluruh penjuru tanah air tercinta ini mempunyai semangat untuk lebih memperbaiki kualitas diri demi keutuhan dan kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia kedepannya nanti. Semangat jihad senantiasa berkobar dalam hati sanubarinya. Jihad untuk mengamalkan ilmu agama yang dimilikinya dari pondok pesantren untuk masyarakat luas bagi jihad santri. Dan jihad untuk melayani pemustaka di perpustakaannya untuk jihad pustakawan. Sebagai kata terakhir, Selamat Hari Santri Nasional. Jayalah Selalu Santri dan Jayalah Selalu Pustakawan.

Penulis

Triningsih, S.IP.
Pustakawan Muda IAIN Surakarta

Pustakawan Muda IAIN Surakarta

Komentar ditutup.